Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

KEUANGAN

Rupiah menguat, imbas The Fed kurangi kenaikan suku bunga

badge-check


					Rupiah menguat, imbas The Fed kurangi kenaikan suku bunga Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi global, khususnya  Amerika Serikat, yang masih melandai di awal 2019 ini, menjadi angin segar bagi iklim investasi di Indonesia.

“Jika 2018 mengalami outflow, pada tahun 2019 akan terjadi capital inflow. Ekonomi Indonesia 2019 diperkirakan akan tumbuh berkisar 5,0-5,4% dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi 5,4-5,5%. Rupiah juga akan lebih stabil dan bergerak ke level yang mencerminkan fair value,”jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo ,Senin (7/1/2019).

Perry juga menyodorkan analisa, bahwa bank sentral AS atau The Fed, di tahun 2019 tidak akan banyak menaikkan suku bunga acuan dari yang direncanakan tiga kali, kemungkinan hanya dua kali pada tahun ini.

Perkembangan ekonomi dan keuangan global, menunjukkan bahwa dolar AS tahun 2019 tidak lagi perkasa. Karena The Federal Reserve (Fed) kemungkinan hanya dua kali menaikkan Fed fund rate(FFR).

Di Indonesia, suku bunga acuan BI yang sudah mencapai 6% menjadi modal kuat untuk menarik minat pemodal asing. Demikian halnya dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang menjadi daya dorong capital inflow.

Dengan tekanan global yang menurun, kata Perry, neraca transaksi berjalan juga akan relatif stabil. Jika current account deficit (CAD) 2018 sebesar 3% dari PDB, pada 2019, CAD diperkirakan sekitar 2,5%.

Data BI menunjukkan, CAD pada akhir kuartal ketiga 2018 sebesar US$ 8,4 miliar.Sedangkan cadangan devisa yang akan diumumkan BI , diyakini akan naik signifikan dibanding periode sebelumnya, kuartal III senilai US$ 114,8 miliar.

Laju inflasi tahun ini diperkirakan 3,5% plus-minus 1%. Itu artinya lebih tinggi dibanding inflasi 2018 sebesar 3,13%. Dalam empat tahun terakhir, inflasi stabil, antara lain, akibat keberhasilan BI dalam menjaga stabilitas makroprudensial.

Sebagaimana disampaikan Perry, pada 2019 ini, harga komoditas diprediksi menurun, sehingga akan memukul ekspor Indonesia jika hanya mengandalkan komoditas. Oleh karena itu, Indonesia harus segera mendorong mesin penghasil valas, yakni dari sektor ekspor industri manufaktur, mencari pasar baru untuk komoditas dan produk industri,dan pariwisata.

Selain itu, Indonesia harus pula mendorong alternatif BBM, yakni implementasi B20 dari kelapa sawit. Apalagi di tahun 2019, ekonomi digital akan terus di genjot khususnya e commerce, yang menggandeng pelaku UKM dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Danantara Jadi Ujung Tombak Pemulihan Pascabencana di Aceh

2 Januari 2026 - 08:47 WIB

Membedah Kontradiksi Kebijakan Moneter BI yang Dianggap Berhalusinasi

31 Desember 2025 - 09:11 WIB

Populer KEUANGAN