Menu

Mode Gelap
Surya Paloh Ditantang Turun Tangan, Oknum Sekretaris DPD Partai NasDem Terlibat PETI Audit Ungkap 152 Nama dan Rp3,3 Miliar Kerugian Negara, Mengapa Hanya Enam Terdakwa Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh

SOSDIKBUD

Hj. Niken : Masyarakat Harus Melek Dengan Isu Kesehatan Mental

badge-check


					Hj. Niken : Masyarakat Harus Melek Dengan Isu Kesehatan Mental Perbesar

INAnews.co.id, MataramRemaja yang masih berkembang dan belum begitu mampu mengelola emosinya dengan baik lebih rentan terhadap percobaan bunuh diri dibandingkan orang dewasa.

Menurut WHO, Bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab utama kedua kematian pada remaja di dunia. Hal ini biasanya disebabkan oleh tingginya tekanan di sekitar akibat perundungan, kekerasan, ataupun ketidakharmonisan keluarga dan banyak faktor lainnya.

Demikian disampaikan Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati, pada Seminar Kesehatan Mental dalam Perspektif Agama, Medis, Psikologi, dan Budaya, di Gedung Rektorat Universitas Mataram 29 februari 2020.

Untuk mencegah hal itu, remaja perlu mendapat dukungan psikososial.

Sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya dapat membantu mempromosikan kesehatan mental yang baik.

Selain itu, ikatan dengan keluarga perlu diperkuat. Ketahan keluarga yang baik dapat menjadi salah satu solusi dalam mencegah maraknya kasus gangguan kejiwaan yang ada.

Hj. Niken juga menjelaskan peran dari orangtua, guru-guru di sekolah dan masyarakat yang harus melek dengan isu kesehatan mental.

Ia mengajak agar semua yang berperan tersebut bisa melawan stigma negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) maupun Orang Dengan Masalah Jiwa (ODM).

“Kita harus melawan stigma negatif orang dengan gangguan jiwa. Jangan ragu untuk berobat atau konsultasi dengan psikiater. Jika jiwa kita sehat maka kita akan menjadi lebih produktif dalam menjalani hidup” jelasnya.

Sesepuh organisasi NTB tersebut melanjutkan, 91 persen penderita depresi di Indonesia tidak mendapatkan perawatan.

Seharusnya penderita gangguan jiwa maupun keluarga yang anggotanya menderita gangguan kejiwaan tidak perlu malu untuk berobat ke Rumah Sakit Jiwa.

NTB sendiri memiliki Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma (RSJMS) yang merawat 980 ODGJ. RSJMS memiliki Psikiater sebanyak 5 orang, Psikolog sebanyak 3 orang, dan seorang spesialis perawatan jiwa. Selain RSJMS, banyak rumah sakit juga yang telah menyediakan psikiater maupun psikolog, baik RS pemerintah maupun swasta.

Masyarakat NTB harus memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik, karena di Indonesia masih ada 8 provinsi yang belum memiliki rumah sakit jiwanya sendiri.

Masyarakat juga diminta untuk tidak memandang rendah orang dengan gangguan jiwa maupun orang dengan masalah kejiwaan. Hal tersebut merupakan penyakit yang dapat ditangani.

Lebih jauh ia juga menjelaskan tentang program unggulan revitalisasi posyandu, dimana 7.207 posyandu yang ada di setiap dusun di NTB akan dipersiapkan menjadi posyandu keluarga.

Di dalam posyandu keluarga tersebut nantinya, tak hanya mengurus masalah kesehatan ibu dan balita tetapi juga memberikan perhatian terhadap masalah sosial dan isu kesehatan mental untuk seluruh anggota keluarga.

Posyandu keluarga diharapkan dapat menjadi wadah edukasi terkait isu kesehatan mental. Selain itu dengan adanya Posyandu keluarga di setiap dusun di NTB, diharapkan dapat menambah erat ketahanan keluarga. Sehingga dapat menjegah terjadinya ODGJ dan ODMJ dalam anggotanya.

“Kita punya program unggulan Revitalisasi Posyandu. Yang mana merubah posyandu biasa menjadi posyandu keluarga. Melalui posyandu keluarga kita harap ketahanan keluarga di NTB semakin kuat,” ujar Bunda Niken.

Tak hanya Bunda Niken, Seminar tersebut juga menghadirkan pembicara yang kompeten dalam membahas isu kesehatan mental dalam Perspektif Agama, Medis, Psikologi, dan Budaya. Pembicara tersebut di antaranya, Prof. Dr. Lalu Wirasapta Karyadi Guru Besar Unram, dr. Agustine Mahardika Psikiater RS Unram, Dr. TGH. Lalu Ahmad Zaenuri Dosen UIN Mataram, dan Sri Helmi Hayati Psikolog RS Unram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Perkuat Silaturahmi, Kedubes UEA Serahkan Simbol Tradisi dan Persahabatan di Masjid Al-Amin Kemenkeu

23 Februari 2026 - 21:09 WIB

UBN Ajak Bangkitkan Aceh di Ramadan

17 Februari 2026 - 13:25 WIB

BMH: Ramadhan Bahagia dengan Berzakat

16 Februari 2026 - 15:59 WIB

Populer SOSIAL