Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

EKONOMI

Morat Marit Stok Pangan Indonesia Gegara Virus Corona

badge-check


					Stok beras Bulog saat diangkat oleh buruh pasar Perbesar

Stok beras Bulog saat diangkat oleh buruh pasar

INAnews.co.id, Jakarta -Pandemi Virus Korona (Covid-19) bukan hanya membawa masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga membawa implikasi ekonomi yang sangat luas.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberi keterangan pers mengenai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, Selasa 31 maret 2020, melalui konferensi video, dari Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Perkembangan wabah Covid-19 yang makin masif, termasuk dampak ekonomi yang ditimbulkan menjadikan tatanan ekonomi Indonesia menjadi morat marit, akibat dampak pandemi Covid 19 yang masih menjadi banyak pertanyaan kapan akan berakhir.

Menanggapi hal itu Pimpinan Pusat Lembaga Peduli Nusantara , Arthur Noija berpendapat bahwa, Pemerintah harus mempertimbangkan betul kesiapan bahan pokok, termasuk distribusi logistiknya.

Ketersedian bahan pokok, termasuk distribusi logistiknya menjadi perhatian secara khusus bagi masyarkat di tengah meluasnya virus corona Covid-19 di Indonesia.

“Hal ini harus ada kepastian dari pemerintah, berpikir yang terpenting sekarang adalah pemerintah perlu memperhatikan daya dukung dan kesiapan sektor pangan. ketersediaan bahan pokok,” terang Arthur kepada INAnews 31 maret 2020.

Jika sektor pangan lumpuh di saat masyarakat menghadapi krisis kesehatan, maka situasi bisa memburuk dengan cepat. Lanjut Arthur, Pemerintah, harus benar-benar menyiapkan antisipasi kesiapan stok bahan pangan, termasuk mitigasinya jika produksi pangan ambruk.

“Apakah benar stok pangan kita cukup mengatasi kemungkinan yang terburuk. Tentu bicara ketersediaan, harus semua daerah, seta distribusi logistiknya bagaimana. Tidak cukup hanya ucapan atau pernyataan bahwa bilang aman. Harus Ada Garansi benar-benar aman, jangan malah nantinya morat marit meski Perpu sudah dikeluarkan oleh Presiden” jelasnya.

Saat ini saja, tambah Ketua LPN , mengatakan sudah cukup jelas masyarakat sudah merasakan dampaknya. Beberapa komoditas sudah mulai langka di pasaran, harganya juga terus melambung naik.

“Harga impor sembako terpengaruh besar karena hampir semua kebutuhan bahan pokok kita impor, terutama dari China,” ungkapnya.

Seperti diketahui Perpu yang dikeluarkan oleh Pemerintah memutuskan total tambahan belanja dan pembiayaan APBN Tahun 2020 untuk penanganan Covid-19 adalah sebesar Rp405,1 triliun.

Dalam Perpu itu hanya memutuskan soal kebijakan dan stabilitas sistem keuangan. LPN melihat Pemerintah tidak berbicara bagaimana mekanisme penyedian bahan pangan dan kebutuhan pokok rakyat yang harganya melonjak tidak karuan.

“Jelas dalam situasi seperti ini , monopoli bahan pangan dan kebutuhan medis yang dijual bebas untuk masyarakat harganya melambung tinggi, dan Satgas Pangan sepertinya tidak fokus dan menindaklanjuti kekacauan harga pangan,” tambah Ketua LPN.

Dalam situasi krisis seperti sekarang ini , Lembaga Peduli Nusantara berpendapat bahwa, sudah seharusnya negara mengandalkan sumber daya nasional untuk bertahan, “apalagi menjelang hari Raya Idul Fitri, sudah pasti kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok lainnya akan meningkat,” ucapnya.

“Negara harus membeli hasil panen petani terlebih dahulu sebelum memutuskan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Hal ini bukan saja untuk menjamin ketersediaan pangan, tapi juga menguatkan solidaritas dan spirit gotong royong,” ujar Arthur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kontrak Sewa Kapal PLN Energi Primer Capai Rp16 Triliun, CBA : Nilainya Triliunan Tapi Dianggap Seperti Kuitansi Kosong

7 Januari 2026 - 07:22 WIB

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

CBA Desak Kejagung Panggil Djony Bunarto Tjondro Terkait Dugaan Korupsi Impor BBM Pertamina

5 Januari 2026 - 06:31 WIB

Populer EKONOMI