Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

EKONOMI

BNI Syariah Gelar Public Lecture ke Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

badge-check


					BNI Syariah Gelar Public Lecture ke Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Perbesar

INAnews.co.id, Yogyakarta – BNI Syariah bersama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar webinar Nasional Prodi Perbankan Syariah dengan tema “Opportunities, Challenges, Strategies of Islamic Bank and Finance to Support the Halal Industry”, Senin (16/11). Dalam webinar ini, Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo hadir sebagai narasumber.

Dalam webinar yang dihadiri lebih dari 300 peserta, hadir Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan Dan Keuangan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sahiron; Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Afdawaiza; Kaprodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Ruspita Rani Pertiwi; Economic Researcher Specialist Bank Indonesia, Rifki Ismal; dan CEO Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat. 

Dalam webinar, Abdullah Firman Wibowo menjelaskan ada lima tantangan dalam pengembangan perbankan syariah diantaranya adalah faktor geografi, generasi, teknologi, ekosistem, dan leadership. “Untuk mengatasi tantangan ini, kita harus mempunyai inisiatif untuk melakukan kolaborasi dan inovasi,” kata Abdullah Firman Wibowo.

Tantangan dari sisi geografi, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau. Dengan luas wilayah ini, tidak semua cabang perbankan syariah bisa menjangkau remote area sehingga menyebabkan rasio inklusi masih rendah yaitu sebesar 11%.

Dari sisi generasi, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dengan lebih dari 230 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87% merupakan penduduk muslim dengan 60%-70% masuk dalam generasi millenial. Saat ini ada generation gap antara generasi milenial dengan generasi di atasnya sehingga pemahaman dan pengetahuan mengenai produk perbankan syariah tidak merata antar generasi.

Untuk tantangan teknologi, dengan perkembangan fintech yang sangat cepat, baik dari sisi pengembangan aplikasi dan uang elektronik, industri perbankan syariah harus cepat mengikuti. Dari sisi tantangan ekosistem, potensi industri halal masih cukup luas tapi hanya menjangkau 6% dari total market share.

Sedangkan untuk leadership, jumlah pemimpin di perbankan syariah cukup terbatas. Untuk mengatasinya, perlu ada kaderisasi pembentukan pemimpin untuk mengatasi leadership gap perbankan syariah.

Perbankan syariah memiliki peluang yang besar didukung oleh besarnya potensi bisnis industri halal. Berdasarkan riset dari State of the Global Islamic Economy Report tahun 2019, potensi bisnis industri halal sebesar US$ 2,2 triliun, terdiri dari halal food, fashion, media, tourism, pharmacy, cosmetics, dan umrah.

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan Dan Keuangan, Sahiron mengatakan saat ini tantangan yang dihadapi perbankan syariah Indonesia adalah bagaimana meningkatkan ketertarikan masyarakat pada bank syariah. “Potensi industri halal masih belum dioptimalkan untuk meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah,” kata Sahiron.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Afdawaiza menjelaskan Indonesia mempunyai potensi besar dalam industri halal karena salah satunya mempunyai sumber daya dan penduduk muslim terbesar dunia. “Ini menjadi sebuah tantangan untuk Indonesia dalam mengembangkan kuantitas dan kualitas industri halal,” kata Afdawaiza.

Bicara mengenai industri halal, Indonesia menempati posisi kelima dari sisi perkembangan industri halal. Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang masih harus dibenahi agar Indonesia menjadi pemain utama dalam hal industri halal.

Economic Researcher Specialist Bank Indonesia, Rifki Ismal mengatakan beberapa hal yang sudah dilakukan BI dalam pengembangan ekonomi syariah diantaranya adalah mendorong ekosistem ekonomi halal value chain. “Salah satunya adalah BI bekerjasama dengan Kementerian Agama terkait dengan pemberdayaan ekonomi pesantren,” kata Rifki Ismal.

Saat ini dari total 30 ribu pesantren yang ada di Indonesia, sebanyak 323 diantaranya sudah dibantu dalam hal pemberdayaan unit ekonomi. Dengan ini diharapkan pesantren bisa mandiri dan lebih berkontribusi dalam pengembangan industri halal. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kontrak Sewa Kapal PLN Energi Primer Capai Rp16 Triliun, CBA : Nilainya Triliunan Tapi Dianggap Seperti Kuitansi Kosong

7 Januari 2026 - 07:22 WIB

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

CBA Desak Kejagung Panggil Djony Bunarto Tjondro Terkait Dugaan Korupsi Impor BBM Pertamina

5 Januari 2026 - 06:31 WIB

Populer EKONOMI