JAKARTA, INAnews – Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Film Indonesia yang diselenggarakan bersama Asosiasi Pengkaji Film Indonesia dengan akronim sekaligus nama kegiatan KOFI KAFEIN 3 edisi Jabotabek.
Konferensi Jabotabek ini merupakan kota kedua kelanjutan dari KOFI KAFEIN 3 di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan rencananya akan dilanjutkan ke Kota Malang dan Bandung.
Tujuan kegiatan yang digelar di Ruang RB.202 Kampus A USNI pada 19-20 Januari 2023 ini, menurut Wakil Rektor I USNI, Dr. Ir. Urip Rahmani, M.Si, adalah untuk memetakan berbagai permasalahan dalam perfilman dan isi film di Indonesia.
“Ruangan tersebut dilengkapi piranti elektronik terkini sebagaimana peruntukan Smart Class Room, diperoleh USNI dari hibah Kemendikbudristek RI guna mengakselerasi ragam kegiatan akademis demi menjembatani perbedaan jarak dan waktu” ujar Dr. Ir. Urip Rahmani, M.Si selaku
Pelaksanaan konferensi ini mengundang 15 pemakalah, antara lain, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Gunawan Paggaru, peneliti-peneliti film Ekky Imanjaya, S.S., M.Hum., M.A., Ph.D. (Binus University), Dr. Immanuel Gintings, S.S., M.Hum (Universitas Negeri Medan), Dr. Lala Palupi Santyapuri, S.Sn., M.Si (UPH), tuan rumah sekaligus bertugas sehari-hari sebagai Wakil Rektor III USNI Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom, Ketua Bidang Festival Film dan Kegiatan BPI Vivian Idris, Ketua Bidang SDM dan Standar Kompetensi BPI Dr. Naswan Iskandar, S.Sn., M.Sn, serta beberapa pengkaji film lainnya.
Hadir pula Ketua KAFEIN Tito Imanda, S.Sos., M.A., Ph.D. (Tito), pembuat film Panji Wibowo, S.Fil., S.Sn., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi USNI Dr. Achmad Budiman Sudarsono, S.Ikom., M.Ikom dan Drs. Solten Rajagukguk, M.M. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USNI.
Terdapat 13 pemakalah yang hadir luring dan dua pemakalah yang hadir secara daring, yaitu dari Assoc. Prof. Dr. Thomas Barker dari University of Nottingham, Canberra – Australia dan Novasari Widyaningsih, S.Sn. dari University of Leeds, Inggris.
Tema makalah-makalah yang muncul membahas berbagai isu, di antaranya posisi karakter perempuan dalam film Indonesia, kesehatan dan keselamatan kerja di dalam industri film, kurikulum sekolah film, bahasa film yang sesuai dengan budaya lokal, festival film, berbagai isu dalam bisnis film, pemasaran film secara daring di media sosial, serta pentingnya riset dalam pengembangan perfilman.
Ketua KAFEIN Tito Imanda, S.Sos., M.A., Ph.D. memaparkan bahwa acara ini adalah rangkaian rapat kerja yang melibatkan anggota-anggota KAFEIN yang tersebar di daerah berbeda dalam pertemuan tatap muka, dengan harapan dapat memperkuat organisasi asosiasi pengkaji film Indonesia.
“Dalam rangkaian pelaksanaan KOFI KAFEIN 3 di dua kota telah menghasilkan banyak temuan yang membantu pemangku kepentingan perfilman untuk menciptakan kondisi perfilman yang lebih baik, apalagi kita semua sedang dalam masa persiapan pembuatan Rancangan Undang-undang Perfilman yang baru” tambah Tito yang dipercaya pula sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan BPI.
Lebih lanjut, diharapkan Perfilman Indonesia di masa yang akan datang dapat dibangun pemahaman lebih dalam yang membantu semua pemangku kepentingan perfilman, yaitu pelaku industri film, bioskop, asosiasi profesi, sekolah film, komunitas, dan pegiat kegiatan film, serta pemerintah untuk mengevaluasi berbagai hal yang telah dimiliki sehingga mencapai tatanan yang lebih baik di masa depan.






