INAnews.co.id Sulawesi Utara– Pekerjaan peningkatan ruas jalan Desa Tateli-Agotey-Kakaskasen banyak memakan korban kecelakaan, karena diduga dikerjakan secara asal-asalan dan dikerjakan pada saat hujan, sehingga Aspal jalan tersebut menjadi berlubang dan banyak yang sudah retak. Jumat 19 April 2024
Pekerjaan yang dikerjakan oleh PT Moraya Bangun Sakti pada tahun 2021 ini memakan anggaran sebanyak Rp 16.250.528.895.04, yang berasal dari anggaran dana PEN hal ini pun sudah sempat menjadi sorotan publik dikarenakan proyek jalan tersebut dikerjakan pada saat hujan.
Salah satu warga Desa Koha yang sering melewati jalan tersebut mengatakan, bahwa dia dan suaminya pernah mendapati para pekerja jalan tersebut melakukan pengaspalan pada saat hujan deras, sehingga atas perintah suaminya dia pun memvideokan pekerjaan tersebut karena menurut suaminya pengaspalan tidak bisa dilakukan pada saat hujan.
“Saya masih ingat betul, pada malam itu saya dan suami saya mau pulang ke Desa Koha karena hujan sangat deras dan mengganggu pengelihatan suami saya, maka saya suami saya mengendarai sepeda motor dengan pelan, pada saat melewati jalan tersebut kami melihat para pekerja sedang melakukan pengaspalan, sehingga suami saya meminta agar saya memvideokan hal tersebut karena menurutnya hal itu tidak dibenarkan”, ucap warga yang tidak mau namanya dipublish.
Setelah awak media mendapati informasi tersebut, awak media langusng terjun kelapangan guna mencari tau kebenaran informasi yang didapatkan dari salah satu warga, dan benar awak media mendapati jalan yang baru dikerjakan pada tahun 2021 tersebut sudah berlubang dan banyak yang sudah retak sehingga sudah banyak memakan korban kecelakaan.
Pada dasarnya pengaspalan tidak bisa dilakukan pada saat hujan, hal itu dikarenakan material aspal mengandung minyak yang tidak senyawa dengan air, ketika material aspal terkena air maka minyak yang ada pada material aspal akan naik kepermukaan sehingga aspal tersebut tidak mudah kering dan menurunkan kwalitas aspal itu sendiri secara keseluruhan.
Diketahui juga, pada saat hujan lapisan tanah akan tidak stabil. Tanah yang basah akan menjadi lunak, sementara untuk melakukan pengaspalan membutuhkan tanah yang kuat dan stabil sehingga material aspal dan tanah bisa menyatu sehingga kwalitas aspal menjadi baik.
Masyarakat meminta agar APH dapat memeriksa Kontraktor dan PPK Turis Mentang yang terlibat dalam pekerjaan tersebut, karena selain sudah banyak memakan korban kecelakaan hal ini juga sudah merugikan Negara.
Sonny salah satu warga yang berprofesi sebagai tukang ojek pun keluhkan terkait pekerjaan jalan tersebut karena menurutnya, jalan yang sering digunakannya tersebut menjadi sangat berbahaya untuk digunakan warga, dia pun meminta agar pihak Kontraktor dan PPK bisa bertanggung jawab atas pekerjaan yang mereka lakukan.
“Aparat Penegak Hukum (APH) dapat memprose secara hukum bagi mereka yang tetlibat dalam pekerjaan tersebut, salah satunya Kepala Dinas PUPR Provinsi Sulut Alex Watimena karena diduga melakukan tindak pidana korupsi sebagai mana yang sudah diatur dalam Undan-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, ujar Warga.
Ketika dikonfirmasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Turis Mentang mengatakan, kalau hal tersebut sudah dikalrifikasi dengan beberapa media dan Aparat Penegak Hukum, dan juga pihaknya sudah menyiapkan data-data pendukung.
“Ya, Mat siang, Klarifikasi so dilakukan sejak 2022 dengan beberapa media, bahkan APH sehingga so disiapkan data-data pendukungnya, klu minta tanggapan lisan, nti qt jelaskan di ktr….. dan supaya seimbang, baiknya bawa data teknis, sandingkan dengan torg pe data-data termasuk uji lab”, singkat Turis melalui pesan singkat WhatsApp.






