Menu

Mode Gelap
Danantara Proyeksi Dongkrak PDB 3 Persen di Awal Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

POLITIK

BKSAP DPR RI Serukan Gencatan Senjata India-Pakistan

badge-check


					Foto: Politisi PKS Mardani Ali Sera, dok. parlementaria Perbesar

Foto: Politisi PKS Mardani Ali Sera, dok. parlementaria

INAnews.co.id, Jakarta Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan militer antara India dan Pakistan, menyusul operasi militer India yang disebut “Operasi Sindoor”. Konflik ini dikhawatirkan mengancam stabilitas regional, mengingat kedua negara memiliki senjata nuklir.  

Eskalasi konflik dipicu oleh serangan teror di Pahalgam, Jammu Kashmir, pada 22 April 2025, yang menewaskan 26 wisatawan. Kelompok The Resistance Front, yang berbasis di Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. India kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah yang dianggap sebagai sarang teroris, yang direspons Pakistan dengan tembak-menembak pesawat tempur.

Laporan korban jiwa dan jatuhnya pesawat tempur di kedua belah pihak semakin memperburuk situasi. Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, dalam konferensi pers pada Kamis (8/5/2025), menegaskan dukungan penuh atas seruan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk de-eskalasi dan dialog diplomatik.

Ia juga menyampaikan tuntutan mendesak: Perlindungan warga sipil dan infrastruktur vital, Gencatan senjata segera, Penyelesaian sengketa Kashmir berdasarkan Piagam PBB, Kesiapan DPR RI berpartisipasi dalam diplomasi parlemen melalui forum AIPA dan SAARC.

“Kami mengajak komunitas internasional berkumpul mempromosikan solusi damai,” tegas Mardani.

BKSAP DPR RI menilai konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas Asia Selatan, memicu krisis pengungsi, dan mengancam proyek infrastruktur regional seperti China-Pakistan Economic Corridor.

Oleh karena itu, BKSAP DPR RI mendesak kedua negara untuk segera menghentikan aksi militer dan kembali ke meja perundingan demi tercapainya perdamaian dan keamanan kawasan yang lebih baik.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK