Menu

Mode Gelap
Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

POLITIK

Ini Potensi jika Kondisi Bangsa tak Diperbaiki

badge-check


					Foto: Amien Rais/tangkapan layar Perbesar

Foto: Amien Rais/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Dewan Syuro Partai Ummat, Prof. Amien Rais, mengingatkan bahwa kondisi sosial-politik Indonesia saat ini mirip dengan situasi menjelang keruntuhan Orde Baru pada 1998. Dalam pidato kerasnya, Amien menyoroti kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai membawa Indonesia ke jurang krisis multidimensi.

Peringatan Sejarah 1998 dan Kekhawatiran “People Power Jilid 2”

Amien membandingkan situasi saat ini dengan masa akhir Orde Baru, di mana ketimpangan ekonomi, pembungkaman demokrasi, dan kesenjangan sosial memicu ledakan amuk massa. “Rakyat yang lapar adalah rakyat yang marah. Jika kesabaran habis, Indonesia bisa porak-poranda seperti Mei 1998, bahkan lebih dahsyat,”tegasnya yang disampaikan lewat akun YouTube-nya.

Ia menggambarkan kerusuhan 1998 yang mengakibatkan ratusan korban jiwa, penjarahan, dan pembakaran, seraya memperingatkan: “Jika people power jilid 2 terjadi, kerusakannya akan lebih destruktif karena rakyat sekarang lebih tertekan.”

Kritik Tajam terhadap Jokowi: “Raja Jawa Gadungan” yang Memecah Belah Bangsa

Amien menuding Jokowi mengulangi kesalahan Soeharto dengan “sindrom Louis XIV”—menganggap negara identik dengan dirinya. Namun, ia menilai Jokowi lebih parah: “Dia membelah bangsa menjadi kubu pendukung dan musuh. Yang dianggap musuh diawasi, yang dianggap teman dibanjiri fasilitas.”

Ia juga menyoroti gaya hidup Jokowi yang dinilai “seperti raja Jawa gadungan”, terutama saat pernikahan putrinya pada 2017. “Dia mendatangkan tujuh kereta kencana Keraton Solo ke Medan hanya untuk memuaskan ego. Ini bukan presiden, tapi orang yang ‘kere nemoni malam’ (orang miskin yang tiba-tiba hidup mewah) dan lupa diri,” sindir Amien.

Warisan Krisis Jokowi: Kemiskinan, Pengangguran, dan Kehancuran Demokrasi

Amien merinci masalah berat yang ditinggalkan Jokowi:

  1. Kemiskinan dan pengangguran yang meluas, termasuk pengangguran terselubung.
  2. Polri dan TNI yang dianggap tidak independen, hanya menjadi alat kekuasaan.
  3. Prabowo Subianto yang terus “dijegal oleh Jokowi dan Gibran”.
  4. Premanisme yang merajalela, bahkan “dianggap sejajar dengan TNI”.
  5. Citra internasional Indonesia yang merosot.

“Jokowi meninggalkan bangsa dalam kegelapan. Rakyat sulit memenuhi kebutuhan pokok, sementara elite berfoya-foya,” ujarnya.

Solusi: Hindari Kekerasan, Kejar Hukum bagi Jokowi

Amien menegaskan bahwa people power bukan solusi, tetapi Jokowi dan keluarganya “harus diadili”. “Kita perlu hukum, bukan kerusuhan. Indonesia harus maju, sementara Jokowi dan kroninya harus menghadapi pengadilan,”tegasnya.

Ia mendorong upaya sistematis melalui jalur hukum dan reformasi konstitusi untuk memperbaiki demokrasi. “Jokowi boleh lolos dari amuk massa, tapi tidak boleh lolos dari keadilan,” tandasnya.

Seruan untuk Bangkit

Amien mengakhiri pidatonya dengan pesan optimistis: “Indonesia bisa bangkit jika kita bersatu melawan ketidakadilan. Jangan biarkan orang-orang seperti Jokowi menghancurkan masa depan bangsa.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi

9 Januari 2026 - 22:52 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Populer GERAI HUKUM