INAnews.co.id, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali bulan Juni 2025 dengan kinerja negatif. Pada penutupan perdagangan Senin (2/6/2025) sore, IHSG ditutup melemah signifikan 110,75 poin atau 1,54 persen ke level 7.065,06. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak perdagangan global dan tekanan pada saham-saham perbankan jumbo.
Sejak awal sesi perdagangan, IHSG langsung menunjukkan tren penurunan. Indeks bahkan sempat merosot hingga 1,69 persen ke level 7.054,1 pada sesi pertama. Mayoritas sektor di BEI terpantau melemah, dengan 10 dari 11 sektor mengalami koreksi.
Anjloknya IHSG pada hari ini disebut-sebut dipicu oleh beberapa sentimen, baik dari dalam negeri maupun global. Dari sisi eksternal, tensi perang tarif yang kembali meninggi serta ketidakpastian kebijakan terkait tarif impor oleh Amerika Serikat menjadi perhatian investor. Pergerakan bursa saham kawasan Asia lainnya yang juga cenderung melemah turut menambah tekanan pada IHSG.
Di pasar domestik, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Mei 2025 dan neraca perdagangan. Meskipun rupiah berhasil bangkit tipis terhadap dolar AS, tekanan jual pada saham-saham unggulan, terutama dari sektor perbankan, menjadi faktor dominan yang menyeret IHSG ke zona merah.
Saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti BBRI dan BBCA terpantau ambrol, dengan BBRI turun 4,25%.
Analis pasar sebelumnya telah memprediksi adanya potensi koreksi pada IHSG di awal Juni, meskipun ada harapan penguatan di sepanjang bulan ini. Namun, sentimen negatif global dan tekanan pada saham-saham sektor utama membuktikan prediksi koreksi tersebut.
Meskipun demikian, beberapa analis masih melihat peluang rebound di pekan ini. Investor diharapkan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi domestik dan sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG ke depan.***






