INAnews.co.id, Jakarta– Amien Rais, tokoh reformasi dan Ketua Majelis Syura Partai Ummat, melontarkan pernyataan kontroversial yang boleh jadi mengguncang publik. Dalam pernyataannya, ia menyebut sila kelima Pancasila sebagai “sila yang paling sial.”
Menurutnya, makna “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kini telah bergeser menjadi “kezaliman penguasa atas rakyat Indonesia.
Kritik tajam ini muncul menanggapi gelombang demonstrasi masif yang terjadi di berbagai kota besar, mulai 25 Agustus hingga 1 September 2025.
Gelombang protes tersebut diwarnai aksi anarkisme dan vandalisme. Beberapa peristiwa yang disorot oleh Amien Rais, antara lain: pembakaran gedung DPRD, penjarahan rumah pejabat, dan korban jiwa.
Amien pun mempertanyakan transformasi karakter bangsa Indonesia yang semula dikenal santun, namun kini menjadi “beringas dan vindikatif.” Ia meyakini akar permasalahan ini terletak pada pengabaian nilai keadilan.
“Mengapa dan apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa bangsa yang semula santun, ramah, dan tepo seliro kini berubah menjadi bangsa yang beringas, tega, dan vindikatif?” tanyanya.
Menurutnya, Pancasila telah kehilangan maknanya dan hanya menjadi “kata pemanis” dalam pidato-pidato pejabat. Ia merinci perubahan makna setiap sila, dari sila pertama yang tidak lagi menjadi referensi moral hingga sila kelima yang disebutnya sebagai puncak dari ketidakadilan.
Amien Rais memberikan ultimatum tegas kepada pemerintah. Ia mengutip prinsip universal, “No peace without justice” (tidak ada kedamaian tanpa keadilan), dan menegaskan bahwa negara akan stabil hanya jika keadilan ditegakkan.
“Bangsa Indonesia, terutama pimpinannya, tinggal memilih salah satu. Tidak ada pilihan ketiga: keadilan atau kezaliman,” tegasnya.
Amien Rais bahkan mengusulkan agar para pejabat negara, termasuk Presiden dan menteri, secara periodik mempelajari konsep keadilan.
Dalam pernyataannya, Amien juga mengingatkan para pejabat bahwa zaman telah berubah. Menurutnya, di era digital, media sosial telah menggeser media mainstream dan berita dapat menyebar dalam hitungan menit. “Oleh karena itu, kecerdasan rakyat tidak bisa lagi diremehkan,” ia mengingatkan.






