INAnews.co.id, Jakarta– Presiden KSPI Said Iqbal menunjukkan sikap arogan dalam menanggapi wacana reformasi kepolisian dengan berulang kali bertanya “Siapa dia? Siapa dia?” kepada pihak yang mendorong reformasi Polri.
“Bukan karena sekelompok orang tiba-tiba minta reformasi kepolisian copot Kapolri. Siapa dia? Siapa dia?” ujar Said Iqbal dengan nada meremehkan saat konferensi pers, Senin (15/9/2025).
Sikap meremehkan ini mencerminkan arogansi yang tidak pada tempatnya. Dalam demokrasi, setiap warga negara berhak menyuarakan pendapat tentang reformasi institusi, termasuk kepolisian. Pertanyaan “siapa dia?” justru menunjukkan pemahaman yang dangkal tentang hak demokratis.
Said Iqbal dengan keras menolak wacana penggantian Kapolri Listyo Sigit, bahkan menyebutnya sebagai “hidden agenda dari kelompok tertentu.”
Ia memuji berbagai peran Kapolri dalam isu ketenagakerjaan, namun mengabaikan kritik terhadap penanganan demonstrasi yang berujung korban jiwa.
“Mungkin sebagian buruh tidak tahu ada peran Bapak Kapolri besar sekali menjembatani, memfasilitasi,” kata Said Iqbal seolah-olah jasa Kapolri tidak bisa digantikan.
Ironis bahwa Said Iqbal mendukung reformasi DPR dengan mengkritik “flexing dan hedonisme” anggota dewan, namun menolak mentah-mentah reformasi kepolisian.
Ia bahkan menyatakan reformasi kepolisian “bukan saat ini” karena akan “melemahkan dan demoralisasi anggota kepolisian.” Padahal, kapan lagi waktu yang tepat untuk perbaikan jika bukan setelah ada masalah?
Penolakan keras terhadap reformasi kepolisian ini menimbulkan pertanyaan: apakah KSPI takut kehilangan akses istimewa ke pimpinan Polri? Atau ada kepentingan lain yang tidak diungkapkan?
Sikap defensif berlebihan ini justru mencurigakan dan bertentangan dengan prinsip transparansi yang seharusnya dipegang organisasi masyarakat sipil.






