Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

EKONOMI

Indonesia Era Soeharto Bisa Dikelola Seperti Singapura

badge-check


					Foto: dok. Buguruku Perbesar

Foto: dok. Buguruku

INAnews.co.id, Jakarta– Pernyataan Prof. Hikmahanto Juwana tentang efektivitas pemerintahan era Soeharto menuai perhatian publik. Dalam wawancara di kanal YouTube ‘Helmi Yahya Bicara’ (27/10/2025), guru besar hukum internasional UI ini secara terang-terangan membandingkan sistem pemerintahan Orde Baru dengan kondisi saat ini.

“Indonesia ini zaman Pak Harto ya, walaupun kita luas sekali tapi bisa dikelola seperti Singapura yang kecil,” ujar Prof. Hikmahanto dengan nada nostalgia.

Ia menjelaskan bahwa pada masa Orde Baru, sistem komando sangat jelas. Wali kota dan bupati memiliki pangkat kolonel, sementara gubernur harus bintang dua. Meskipun dari sipil, loyalitas mereka ke atas sangat kuat, membuat negara mudah diatur.

“Kalau zaman dulu Pak Harto kan jelas, kalau bahkan disiplin wali jota, bupati itu pangkatnya kolonel. Nah, tapi kalau misalnya gubernur itu harus bintang dua begitu ya,” jelasnya.

Namun,Hikmahanto menekankan bahwa efektivitas sistem komando tidak boleh mengorbankan demokrasi. “Di sisi pemerintahan bagus juga kayak begitu tapi jangan dimatikan demokrasi, jangan dimatikan orang bersuara lain gitu kan,” tegasnya.

Ia juga mengkritik fenomena “pendulum” dalam pergantian pemerintahan di Indonesia, di mana setiap pemimpin baru cenderung membongkar kebijakan pendahulunya. “Bukannya kita membangun bata untuk membangun Indonesia besar tetapi ini pendulum, di sini ubah kebijakannya di sini, nanti di sini ganti pindah lagi ke sini bolak-balik,” kritiknya.

Menurut akademisi ini, Indonesia perlu belajar dari TNI dan Polri yang memiliki sistem estafet kepemimpinan lebih baik. Pemimpin yang hanya menjabat 2 tahun bergantung pada pengganti untuk melanjutkan programnya, bukan menghancurkannya.

Pernyataan ini memicu perdebatan tentang trade-off antara efisiensi pemerintahan dan nilai-nilai demokrasi yang telah diperjuangkan sejak reformasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

9 Januari 2026 - 08:39 WIB

Populer NASIONAL