INAnews.co.id, Jakarta– Mengapa investor lebih memilih Vietnam daripada Indonesia? Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh Prof. Hikmahanto Juwana dalam wawancara dengan Helmi Yahya yang ditayangkan 27 Oktober 2025.
Pakar hukum internasional ini mengungkap tiga masalah krusial yang membuat Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam dalam menarik investasi asing, khususnya saat perang dagang AS-China era Trump pertama.
Pertama, hukum tumpang tindih. “Kita ini punya masalah. Apa? Satu hukumnya tumpang tindih,” ungkap Prof. Hikmahanto. Regulasi yang saling bertentangan antara pusat dan daerah membuat investor kebingungan.
Kedua, perizinan yang lama. Meskipun pemerintah telah membuat UU Cipta Kerja dengan metode omnibus, kompleksitas birokrasi tetap menjadi penghalang. “Banyak investor yang bilang lah saya ke situ buat apa katanya,” jelasnya.
Ketiga, KKN yang masih merajalela. Prof. Hikmahanto secara terbuka menyinggung praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang masih mengakar. Ia bahkan mengungkap istilah “dorongan amplop” (doa) yang masih diperlukan untuk menyelesaikan urusan hukum dan perizinan.
“Belum lagi KKN. Walaupun pemerintah mencoba menyelesaikan ini dengan Undang-Undang Cipta Kerja,” tambahnya.
Menurutnya, Vietnam berhasil karena memiliki sistem pemerintahan yang terpusat dan terorganisir, mirip dengan Indonesia era Soeharto.
“Vietnam saat sekarang seperti zaman Pak Harto masa lalu, bisa diatur terus kemudian government itu ada centralize-nya begitu ya. Jadi yang di bawah ini enggak macam-macam,” jelasnya.
Prof. Hikmahanto juga mengungkap kekecewaan Presiden Jokowi yang pernah marah karena investor lebih memilih Vietnam. Fakta ini, menurutnya, harus menjadi pembelajaran serius bagi pemerintahan saat ini untuk memperbaiki iklim investasi.






