Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

TEKNO

AI China Ini Lebih Canggih daripada GPT-5

badge-check


					Foto: dok. Kominfo Perbesar

Foto: dok. Kominfo

INAnews.co.id, Jakarta– Perkembangan AI global mengalami gebrakan besar setelah China berhasil mengembangkan model AI Kimi K2 yang lebih canggih dari GPT-5 dengan biaya hanya 10%, membuat OpenAI ketar-ketir.

Muhammad Hanif, pakar AI dan founder MaxGPT.id, mengungkap perkembangan terkini dalam persaingan AI global antara China dan Barat.

“Kimi K2 dari China bisa develop model yang lebih canggih daripada GPT-5 dengan biaya hanya 10%. Itu makanya bikin ketar-ketir. OpenAI butuh budget sampai berapa triliun dolar untuk mengembangkan yang sama, sementara China bisa mengembangkan yang bahkan lebih canggih dengan biaya lebih kecil,” ungkap Hanif dalam Indonesia Leaders Talk, Jumat (14/11/2025).

Hanif menjelaskan kehebatan Kimi K2. “Model terbaru dari China itu kita bisa bikin satu buku novel 150 halaman hanya dengan satu prompt. Sebelumnya tidak bisa itu—dari ChatGPT, dari Gemini 2.5 Pro, dari Claude—mereka tidak bisa sampai segitu. Tapi dari Kimi ini dia bisa bikin sampai novel,” katanya.

Ia juga menyoroti implikasi ekonomi dari perkembangan ini. “Sekarang setiap kali ada orang daftar ChatGPT, OpenAI rugi $8. Setiap harinya ada lebih dari 1 juta orang yang daftar. Jadi setiap hari mereka burning money sampai beberapa juta dolar per hari,” jelasnya.

Hanif memproyeksikan bahwa layanan AI gratis tidak akan bertahan lama. “Ini tidak akan lama. Kita sekarang bisa pakai ChatGPT, Gemini, Grok dengan free dengan output yang bagus. Tapi menurut saya itu tidak akan lama, mungkin 3 sampai 5 tahun. Mereka pasti akan cari profitability,” ungkapnya.

Ia membandingkan dengan strategi perusahaan teknologi lainnya. “Sama kayak dulu kita pakai Gojek, Grab, dikasih promo bermacam-macam, atau di Shopee juga. Tapi lama-lama tarifnya balik normal dan kita tidak ada pilihan lagi karena sudah terbiasa, sudah ada behavior-nya—jadi mau tidak mau harus membayar. Nanti sama dengan AI,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

INKOPPAS Galang Kekuatan Pasar Tradisional Hadapi Era Digital

25 Desember 2025 - 22:54 WIB

AI Hanya Alat Bantu

17 November 2025 - 23:56 WIB

Investasi AI Dimulai dari Manusia

17 November 2025 - 22:49 WIB

Populer TEKNO