Menu

Mode Gelap
Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran Gratis untuk Anak Pemulung “Jangan Malu Orang Tuamu Pemulung”, Motivasi Prabowo untuk Siswa Sekolah Rakyat Program MBG Capai 58 Juta Penerima Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu Pengamat: Wacana Pemilihan Kada oleh DPRD Hampir Dipastikan Terealisasi

INDAG

Mendag Ajak Pelaku Usaha Bersiap Manfaatkan Terbukanya Pasar Ekspor ke Peru dan Tunisia

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak seluruh pelaku usaha untuk segera mempersiapkan diri dan mengambil manfaat secara optimal dari terbukanya pasar ekspor ke Peru dalam skema Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Tunisia dalam skema Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).

Menurut Mendag Busan, perjanjian dagang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan ekspor Indonesia dan negara-negara mitra dagang di tengah tren proteksionisme dalam perdagangan global.

Indonesia-Peru CEPA telah ditandatangani pada 11 Agustus 2025. Sementara itu, Indonesia-Tunisia PTA telah selesai secara substantif dan direncanakan akan ditandatangani pada awal tahun 2026.

Hal ini disampaikan Mendag Busan saat membuka “Strategic Forum Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Tunisia PTA” pada Selasa, (25/11) di Kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan, Jakarta.

“Kita telah menandatangani perjanjian dagang dengan Peru dan Tunisia. Untuk Indonesia-Tunisia PTA, rencananya akan kita tandatangani pada Januari mendatang. Semua perjanjian dagang, baik dengan Peru, Tunisia, maupun negara mitra lainnya, harus segera dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha untuk bisa meningkatkan ekspor,” ujar Mendag Busan.

Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Tunisia PTA menambah deretan perundingan perdagangan Indonesia dengan negara mitra yang telah selesai, yaitu Indonesia-Uni Eropa CEPA, Indonesia-Kanada CEPA, serta Indonesia-Eurasian Economic Union CEPA. Selain itu, Indonesia sudah memulai perjanjian dagang dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Mendag Busan juga menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan untuk meningkatkan ekspor sekalipun target pertumbuhan ekspor tercapai. Menurut Mendag Busan, kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren positif. Pada Januari–September 2025, ekspor Indonesia telah tumbuh 8,14 persen, melampaui target tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 7,1 persen.

Sementara itu, surplus perdagangan meningkat signifikan hingga 50,93 persen.

“Capaian ini luar biasa, tetapi kita ingin terus meningkatkan ekspor dengan cara mencari pasar yang baru. Pembukaan akses pasar ke Peru dan Tunisia merupakan salah satu dari tiga program prioritas Kemendag, yaitu Perluasan Pasar Ekspor,” urainya.

Agar pemanfaatan perjanjian dagang dapat lebih optimal, Mendag Busan mengajak para pelaku usaha mencari mitra dagang dari negara-negara yang sudah memiliki kesepakatan dengan Indonesia.

Selain itu, untuk mendorong peningkatan ekspor nasional, Mendag Busan menjelaskan, Kementerian Perdagangan mempersiapkan program penjajakan bisnis (business matching) yang memungkinkan para pelaku usaha bertemu calon buyer dengan dukungan perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri.

Para perwadag RI di luar negeri, meliputi Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), akan berperan aktif menjembatani pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra di negara-negara mitra. “Akan kami lakukan forum bisnis atau penjajakan bisnis (business matching) secara daring. Kita bisa mulai secara daring terlebih dahulu karena Peru dan Tunisia jaraknya cukup jauh. Kita akan memanfaatkan perwakilan kita di luar negeri untuk membantu pelaku usaha menemukan mitra dagang,” tutur Mendag Busan.

Mendag Busan juga menekankan, tujuan utama perjanjian dagang bukan untuk menciptakan defisit bagi salah satu pihak, tetapi untuk mendorong peningkatan ekspor masing-masing negara secara berimbang dan saling menguntungkan.

“Tujuan perjanjian dagang bukan membuat defisit satu sama lain, tetapi untuk meningkatkan ekspor masing-masing. Kita saling membutuhkan, kita harus menjadi mitra dagang yang adil dan saling menguntungkan. Di tengah tren proteksionisme, kita ingin perdagangan yang adil dan bermanfaat sehingga ekspor kedua negara dapat tumbuh bersama,” ujar Mendag Busan.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko Bris Witjaksono dalam laporannya menyampaikan, forum ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk membahas potensi, peluang, serta tantangan implementasi perjanjian dagang dengan Peru dan Tunisia. Menurutnya, forum ini merupakan awal dari kolaborasi yang akan terus berlanjut.

“Ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini hanyalah permulaan, awal dari kolaborasi kita yang lebih lanjut. Kami berharap kita dapat membuka babak penting baru, mengkaji potensi peluang sekaligus tantangan, termasuk pada Indonesia-Peru CEPA,” kata Djatmiko.

Assistant Vice President Petrokimia Gresik Afan Anas yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi forum yang diadakan oleh Kemendag. “Forum ini sangat bagus, memberikan informasi peluang yang bisa kami manfaatkan kedepannya. Dengan adanya perjanjian ini, harapannya bisa menguntungkan bagi pelaku industri,” ujar Afan.

Gelar Wicara Bahas Peluang dan Tantangan

Forum dilanjutkan dengan gelar wicara (talk show) yang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, membahas tema “Peluang dan Tantangan yang Optimal Indonesia-Peru CEPA.

Sesi ini menghadirkan para narasumber, yaitu Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono; Duta Besar Peru untuk Indonesia H.E. Luis Raúl Tsuboyama Galván; Sekretaris Lembaga Riset Internasional Sosial, Ekonomi, dan Kawasan Universitas IPB Widyastutik; Wakil Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jahja B. Soenarjo; dan Manager Ekspor PT AKGoldenesia Irma Nuranggraini.

Djatmiko membuka diskusi dengan memaparkan 10 komoditas utama yang dapat dioptimalkan dengan adanya Indonesia-Peru CEPA, yakni sektor mobil penumpang dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703), alas kaki (HS 6402, 6403, dan 6404), minyak kelapa sawit dan turunannya (HS 1511), lemari pendingin (HS 8414), kertas dan karton (HS 4802), margarin (HS 1517), cengkih (HS 0907), dan mesin cetak (HS 8443).

“Ada sepuluh komoditas utama dalam Indonesia-Peru CEPA. Pelaku usaha bisa benar-benar menikmati dengan adanya penurunan tarif. Selain itu, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan perjanjian ini untuk mengimpor bahan baku,” kata Djatmiko.

Kemudian Dubes Luis menyampaikan, Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, yang berpotensi menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia. Dengan Perjanjian Indonesia-Peru CEPA, Indonesia dapat menjajaki Peru, yang menjadi pintu gerbang dalam mengakses pasar perdagangan Amerika Latin.

“Perjanjian Indonesia-Peru CEPA merupakan kesempatan yang baik untuk Indonesia dan Peru. Perjanjian ini tidak hanya selesai ditandatangani, tetapi bagaimana butuh implementasi nyata oleh kedua negara,” ungkap Luis.

Dari sisi asosiasi, Jahja memaparkan Indonesia-Peru CEPA membuka peluang besar bagi pelaku usaha. Untuk dapat memanfaatkan perjanjian secara maksimal, pelaku usaha harus melakukan eksekusi secara nyata dan berkelanjutan. “Sebagai pelaku usaha, jangan hanya mendapatkan single time buyer. Kita harus mencari mitra yang tepat untuk dapat membangun bisnis yang berkelanjutan,” ujar Jahja.

Irma dari PT AKGoldenesia turut memaparkan bagaimana Indonesia-Peru CEPA memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha. PT AKGoldenesia telah melakukan ekspor ke Peru dan sejumlah negara Amerika Latin lainnya. Tarif yang turun dengan adanya Indonesia-Peru CEPA berpotensi mendorong peningkatan nilai dan volume ekspor Indonesia. “Dengan adanya Indonesia-Peru CEPA, kami berharap dapat meningkatkan ekspor Indonesia ke Peru dan dapat membawa produk Indonesia menembus pasar internasional yang lebih luas lagi,” ujar Irma.

Dari sisi akademisi, Widyastutik memaparkan bagaimana Indonesia-Peru CEPA berkontribusi pada diversifikasi dagang Indonesia. Melalui Indonesia-Peru CEPA, Indonesia memperluas jangkauan pasarnya tidak hanya ke kawasan tradisional saja, tetapi juga menjangkau kawasan nontradisional seperti Amerika Selatan. Diversifikasi menjadi kunci dalam memperkuat resiliensi ekonomi Indonesia.

Sesi kedua gelar wicara mengangkat tema “Peluang dan Tantangan yang Optimal Indonesia-Tunisia PTA”. Sesi kedua menghadirkan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono; Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi; Sekretaris Lembaga Riset Internasional Sosial, Ekonomi, dan Kawasan Universitas IPB Widyastutik; Vice President of Africa PT Kaldu Sari Nabati Indonesia Dian Rizki; Ketua Komite Tetap Hubungan Bilateral Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk Timur Tengah Hasan Gaido.

Djatmiko memaparkan, Indonesia-Tunisia PTA merupakan perjanjian perdagangan kedua Indonesia di Afrika setelah perjanjian dengan Mozambik. Indonesia-Tunisia PTA menjadi upaya pemerintah untuk melakukan diversifikasi pasar nontradisional di benua Afrika.

Dubes Zuhairi menyampaikan, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang menjalin PTA dengan Tunisia. Indonesia- Tunisia PTA menjadi momen penting bagi Tunisia mengakses pasar Asia. Sementara bagi Indonesia, posisi Tunisia yang strategis menjadikan perjanjian Indonesia-Tunisia PTA sebagai jembatan memasuki pasar Afrika Utara, Eropa, dan Timur Tengah.

Widyastutik selaku akademisi menekankan sejumlah cakupan yang perlu diperhatikan pemerintah dalam perundingan, di antaranya keamanan pangan, standar kesehatan, hingga prosedur kepabeanan. Widyastutik menilai Kemendag telah memenuhi cakupan tersebut dan Tunisia merupakan negara Afrika yang baik secara stabilitas politik dan keamanan untuk keberlanjutan pelaku usaha Indonesia.

Dari sisi pelaku industri, Dian mengapresiasi pemerintah yang menggagas Indonesia-Tunisia PTA. Dian menyebut, Tunisia merupakan negara dengan daya beli yang tinggi, sementara Afrika merupakan benua dengan penduduk yang didominasi usia muda dan konsumtif terhadap produk ekspor. Kondisi tersebut membuka peluang bagi produk Indonesia untuk memperluas pasar dan meningkatkan ekspor.

Senada disampaikan oleh Gaido dari Kadin Indonesia, Tunisia memiliki sejumlah karakteristik yang unik dan menguntungkan bagi Indonesia. Indonesia-Tunisia PTA memiliki posisi strategis yang dapat menjadi pintu bagi Indonesia mengakses pasar ekspor di Afrika, Eropa, dan Timur Tengah. Selain itu, Tunisia sebagai negara mayoritas muslim dapat menjadi koridor dalam memajukan industri halal Indonesia.

Strategic Forum Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Tunisia PTA diikuti oleh lebih dari 200 peserta, baik secara luring maupun daring. Para peserta merupakan perwakilan pemerintah, akademisi, asosiasi pelaku usaha, dan perwakilan negara mitra yang mengikuti forum tersebut.

Sekilas Perdagangan Indonesia-Peru dan Indonesia-Tunisia

Pada Januari–September 2025, perdagangan Indonesia dan Peru tercatat sebesar USD 401,90 juta. Pada periode ini, ekspor Indonesia ke Peru USD 328,10 juta dan impor Indonesia dari Peru USD 73,80 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus USD 254,30 juta terhadap Peru.

Sementara pada 2024, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 480,70 juta dengan ekspor Indonesia ke Peru USD 331,20 juta dan impor Indonesia dari Peru USD 149,60 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus perdagangan terhadap Peru sebesar USD 181,60 juta.

Sementara dengan Tunisia, pada Januari–September 2025, perdagangan Indonesia dan Tunisia tercatat sebesar USD 308,60 juta. Nilai ini meningkat sebesar 157,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Januari– September 2025, ekspor Indonesia ke Tunisia USD 68,90 juta dan impor Indonesia dari Tunisia USD 239,60 juta.

Pada 2024, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 169,30 juta dengan ekspor Indonesia ke Tunisia USD 113,30 juta dan impor Indonesia dari Tunisia USD 56 juta. Dengan demikian Indonesia surplus perdagangan terhadap Tunisia sebesar USD 57,30 juta.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran Gratis untuk Anak Pemulung

13 Januari 2026 - 11:05 WIB

Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah

13 Januari 2026 - 05:59 WIB

Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu

12 Januari 2026 - 21:59 WIB

Populer NASIONAL