INAnews.co.id, Jakarta– Di sepanjang aliran panjangnya—sekitar 1.143 kilometer—Sungai Kapuas mengalir dari pegunungan hingga ke laut, menyambung kehidupan dan cerita bagi ribuan keluarga yang tinggal di tepinya. Ia bukan sebatas aliran air: ia adalah “nadikehidupan”, jalur transportasi, ladang ikan, ruang bersosialisasi, hingga saksi bisu perjalanan sejarah berbagai generasi.
Bayangkan satu pagi di desa tepian sungai: saat kabut tipis masih menutup permukaan air, perahu kecil bersandar, penduduk menurunkan jaring atau sekadar menyambut matahari. Anak-anak sudah belajar berenang di sungai sejak dini, sehari-hari bermain dan mencuci di tepian arus yang sama denganleluhur mereka.
Namun, di balik pesonanya ada tantangan besar: jikakelestariannya tak dijaga, kehidupan yang bergantung padanyapun akan goyah. Maka mari kita jalan bersama melalui kisahdan urgensi menjaga Kapuas—mengapa harus, apa yang harusdijaga, dan bagaimana kita bisa ikut serta.
Kenapa Kapuas Begitu Penting?
Sungai Kapuas menghubungkan hulu ke hilir—hutan ke rawa, rawa ke muara. Ia menyatukan ekosistem serta manusia yang hidup berdampingan dengannya.
• Ekosistem sebagai fondasi: dari hulu hingga muara, sungaiini menjadi habitat bagi flora dan fauna yang unik dan rentan. Apabila aliran terganggu atau vegetasi disisi sungaidihancurkan, kehidupan-ekologi akan terancam.
• Sosial dan ekonomi yang terhubung: perahu, jaring, pasar terapung—semua merupakan bagian dari aktivitas yang dibolehkan karena keberadaan sungai. Bila sungai tercemaratau alirannya tertutup sampah, kerusakan tak hanyaalamiah tapi juga sosial akan terasa.
• Budaya yang tak terpisahkan: ada legenda yang melekatpada sungai ini, seperti kisah naga dan buaya penunggusungai. Masyarakat setempat memandang sungai sebagairuang sakral sekaligus ruang produksi.
• Risiko yang nyata: kerusakan vegetasi tepi sungai, alihfungsi lahan di hulu, limbah yang dibuang sembarangan—semua itu dapat memicu banjir, erosi, penurunan kualitasair, sehingga berdampak langsung ke kehidupan manusia.
Apa yang Perlu Dijaga dan Dilestarikan?
Untuk menjaga kelestarian Kapuas, ada beberapa aspek esensialyang harus kita perhatikan bersama:
1. Kualitas air dan kebersihan sungai
Sungai yang jernih dan alirannya lancar menunjangkehidupan air tawar, aktivitas manusia dan transportasi. Setiap limbah domestik, industri, atau pertambangan yang dibuang tanpa pengolahan bisa merusak kualitas itu.
2. Vegetasi tepi sungai dan zona hulu
Tepi sungai (riparian zone) berfungsi sebagai penghambaterosi, penahan limbah, dan habitat fauna. Saat pepohonanditebang di hulu atau tepi sungai dikeruk, petaka bisamuncul: sedimentasi meningkat, aliran sungai berubah, dan banjir jadi ancaman.
3. Keanekaragaman hayati yang hidup di sungai dan sekitarnya
Ikan air tawar, burung rawa, reptil tepi sungai—merekabergantung pada sungai yang sehat. Aktivitas manusia yang merusak—seperti penangkapan ikan yang merusakekosistem atau pembangunan tepi sungai yang tidak ramahlingkungan—akan menggoyahkan keseimbangan ini.
4. Tata ruang dan pengelolaan wilayah aliran sungai(DAS)
Wilayah hulu hingga ujung sungai perlu dikelola secaraholistik: pembangunan di tepi sungai harusmempertimbangkan dampak terhadap aliran, vegetasi, dan ekosistem. Alih fungsi lahan yang tak terkendali di huludapat memicu perubahan drastis di hilir.
5. Aktivitas sosial-ekonomi yang berkelanjutan
Masyarakat tepi sungai harus dilibatkan dalam pengelolaansungai: misalnya perikanan tradisional yang berpihaklingkungan, wisata sungai yang ramah alam, serta kerajinanberbasis bahan lokal. Pengunjung dan wisatawan juga harussadar: sampah yang dibawa pulang atau tidak mencemarisungai adalah bagian dari tanggung jawab.
6. Adaptasi terhadap perubahan iklim dan mitigasi risiko
Tepi sungai dan vegetasi yang kuat bisa menjadi buffer alami terhadap banjir atau perubahan aliran. Penggunaanlahan yang terus berubah, curah hujan ekstrem, sedimentasi—semua menuntut adaptasi dan pengelolaan risiko.
Mengajak Kita Semua untuk Bertindak
Kelestarian Kapuas bukan hanya urusan pemerintah atauinstansi lingkungan—ia butuh kesadaran kita semua: dari wargatepi sungai, nelayan, pedagang, hingga wisatawan yang singgah. Setiap kantong sampah yang dibuang sembarangan, setiappembangunan yang merusak tepi sungai, setiap aktivitas wisatayang tanpa tata kelola—semuanya punya konsekuensi.
Mari kita mulai dari hal kecil:
• Ketika berkunjung, jangan tinggalkan sampah.
• Pedagang di tepi sungai bisa memilih kemasan ramahlingkungan.
• Pemerintah dan komunitas bisa bersama-sama memperkuatvegetasi tepi sungai.
• Lingkungan sekolah bisa menjadikan Kapuas sebagai“laboratorium” untuk edukasi konservasi.
• Dan kita sebagai bagian dari bangsa ini bisa menyadari: sungai Kapuas adalah milik bersama—sejarah, budaya, ekonomi, dan masa depan.
Sungai Kapuas mengalir bukan hanya melalui wilayah Kalimantan Barat atau Kalimantan Tengah—ia mengalir melaluikehidupan manusia, melalui legenda, melalui generasi yang datang dan pergi. Menjaganya berarti menjaga bagaimana kitahidup, bagaimana anak-cucu kita akan merasakan sungai ini, dan bagaimana warisan alam ini tetap menjadi ruang yang hidup, bukan sekadar kenangan.
Mari kita buka mata, dan biarkan aliran Kapuas tetap jernih, tetap mengalir membawa kehidupan—sebagai warisan yang pantas kita pertahankan.*






