Menu

Mode Gelap
Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran Gratis untuk Anak Pemulung “Jangan Malu Orang Tuamu Pemulung”, Motivasi Prabowo untuk Siswa Sekolah Rakyat Program MBG Capai 58 Juta Penerima Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu Pengamat: Wacana Pemilihan Kada oleh DPRD Hampir Dipastikan Terealisasi

NASIONAL

Susno Duadji Tidak Menyesal Jadi Polisi Walau Mengaku Sudah Dikriminalisasi

badge-check


					Foto: Susno Duadji (tengah) dan Mahfud MD (kanan)/tangkapan layar Perbesar

Foto: Susno Duadji (tengah) dan Mahfud MD (kanan)/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris Jenderal (Purn) Susno Duadji menegaskan tidak pernah menyesal menjadi polisi meskipun pernah dikriminalisasi dan dipenjara oleh institusinya sendiri. Justru pengalaman pahit itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

“Enggak. Justru saya sangat mencintai Polri. Saya bisa begini, bisa ketemu Pak Mahfud, orang yang paling top ini karena polisi, Pak. Kalau bukan karena polisi enggak mungkin,” ujar Susno dalam dialog dengan mantan Menko Polhukam Mahfud MD di kanal YouTube @MahfudMD, Sabtu (29/11/2025).

Susno menjelaskan, kariernya di kepolisian sangat lengkap. Mulai dari menjadi penyidik, menangkap dan memenjarakan orang, hingga terlibat sebagai tim perumus puluhan undang-undang termasuk UU KPK dan UU Money Laundering.

“Saya jadi polisi yang sangat bangga. Kenapa bangga? Saya jadi polisi penyidik, menangkap orang, memenjarakan orang, tim perumus undang-undang. Jarang polisi yang tim perumus undang-undang dan menangani kasus besar-besar. Saya juga jadi polisi yang dipenjarakan. Itu kebanggaan. Tidak semua polisi lengkap pada saya,” tegasnya.

Dihukum dengan Berkas Orang Lain

Susno mengungkapkan kriminalisasi yang dialaminya sangat tidak masuk akal. Ia dihukum menggunakan berkas yang bukan miliknya, bahkan milik seorang perempuan dengan kasus berbeda.

“Contohnya inilah saya dihukum dengan berkas yang bukan berkas saya. Nomor berkas itu, berkasnya bukan berkas saya. Berkas orang lain. Perempuan lagi. Masalahnya bukan masalah saya. Tapi bisa dihukum,” ungkapnya.

Masa kelam itu bermula dari kasus Cicak-Buaya tahun 2009-2010. Saat itu Susno dituding ingin menghancurkan KPK, padahal ia justru bersahabat dengan petinggi KPK seperti Antasari Azhar dan Bibit Samad Rianto, bahkan turut meresmikan LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).

“Saya dikhianati, dituduh ingin menghancurkan KPK. Padahal saya sangat bersahabat dengan orang-orang KPK. Saya bahkan ikut menyusun Undang-Undang KPK,” jelasnya.

Surat dari Penjara yang Mengharukan

Mahfud MD mengaku hubungannya dengan Susno sempat tegang karena saat itu ia membela KPK. Namun surat yang dikirim Susno dari penjara mengubah pandangannya.

“Pak Mahfud, saya sekarang menerima akibat dari ini semua dan saya harus meringkuk dalam penjara. Saya ikhlas sebagai pengorbanan tapi saya minta Pak Mahfud terus berjuang,” tutur Mahfud menirukan isi surat tersebut.

“Saya dulu hantem dia habis-habisan, tapi dia kirim surat ke saya seperti itu. Baru saya tahu bahwa polisi ini polisi hebat, hatinya baik,” kenang Mahfud dengan terharu.

Kini Jadi Petani di Dusun

Pasca pensiun, Susno memilih pulang kampung ke Pagar Alam, Sumatera Selatan, dan menjadi petani. Dengan uang pensiun yang terbatas, ia mengolah tanah warisan orang tuanya dan memberi pekerjaan kepada banyak orang.

“Pensiun saya kan hanya Rp8 juta, enggak cukuplah untuk saya sama istri. Saya bilang kita ada tanah warisan orang tua kan lumayan, kita bagi hasil kemudian kita jenis tanaman kita ubah, cara ngolahnya kita ubah dan punya pekerja banyak, memberi pekerjaan ke orang,” ujarnya.

Meski tinggal di dusun yang membutuhkan perjalanan 7 jam dari Palembang, Susno tetap vokal mengkritisi berbagai kasus hukum di Indonesia. Suaranya kerap menjadi rujukan publik dalam berbagai kasus besar.

Dukungan dari Adik-Adik di Polri

Susno mengaku keberaniannya bersuara mendapat dukungan luar biasa dari junior-juniornya di kepolisian. “Support dari adik-adik luar biasa. Justru yang tidak support adalah orang-orang yang saya tanda petik hitam. Tapi adik-adik yang putih berkata, ‘Bang, terus Bang, terus.’ Bahkan dia kasih masukan, ‘Bang, kalau bisa suarakan yang ini, Bang,'” ungkapnya.

Informasi internal dari mantan anak buahnya yang masih aktif di Propam dan Bareskrim kerap membantunya mendapat data akurat berbagai kasus. Hal itu membuatnya berani bersuara soal berbagai kasus besar seperti kasus Brigadir J, ROI, hingga berbagai kasus lainnya.

Mahfud menyebut sikap Susno adalah produk pendidikan Polri masa lalu yang menanamkan doktrin mengabdi kepada negara dan berani melawan atasan jika salah. “Doktrin-doktrin seperti itu banyak melekat ke polisi era lama, polisi yang masih diajari nilai-nilai perjuangan seperti Hoegeng,” pungkas Mahfud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran Gratis untuk Anak Pemulung

13 Januari 2026 - 11:05 WIB

Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah

13 Januari 2026 - 05:59 WIB

Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu

12 Januari 2026 - 21:59 WIB

Populer NASIONAL