INAnews.co.id, Jakarta – Memahami kolaborasi kesenian dan kebudayaan berarti memahami proses kerja sama antar individu atau kelompok dari latar belakang budaya yang berbeda untuk menciptakan karya baru yang unik, seperti pentas seni, pameran, atau pertunjukan, yang pada akhirnya dapat memperkaya budaya nasional, meningkatkan toleransi, dan mendorong inovasi.
Proses ini melibatkan pertukaran ide, teknik, dan estetika dalam berbagai aspek, dimensi mulai dari pemahaman seni gerak dan musik, hingga fesyen yang dirancang untuk di tampilkan dalam satu panggung hingga mampu menciptakan sebuah harmonisasi yang dapat dinikmati menjadi sebuah pertunjukan spektakuler.
Kolaborasi kesenian dan kebudayaan ini melalui proses yang rumit para seniman dari disiplin yang berbeda bekerja sama untuk menciptakan karya seni bersama.
Kolaborasi dua kebudayaan yang berbeda ini mampu mengerjakan kerja sama antar pihak dari latar belakang budaya yang berbeda untuk mengintegrasikan dan memadukan berbagai elemen budaya guna menciptakan sesuatu yang baru.

Proses inilah yang sedang dilakukan oleh Wayang Kautaman melalui Rumah Proses yang mampu mengolah pemikiran kemudian menyusun konsep pertunjukan kolaborasi Kesenian Wayang Orang dengan Tari Klasik Ballet. Kolaborasi dalam satu panggung ini diharapkan dapat menjadi sebuah tawaran sebuah pertunjukan seni budaya yang mampu beradaptasi dengan ruang, waktu dan nalar tradisi hari ini.
Hingga pada akhirnya Rumah Proses pada Minggu, 16 November 2025 akan menampilkan sebuah pagelaran berjudul Sayap Jatayu, Seblak Tanjak dan Rond De Jambe. Dari judul dan sub judul yang dipilih menegaskan bahwa kali ini Wayang Kautaman memasukkan tradisi Tari Klasik Ballet. Dalam pagelaran ini Rumah Proses Kemudian menggandeng Natalenta Ballet School Jakarta sebagai teman kolaborasi.
Sayap Jatayu adalah sebuah karya yang berpijak pada bentuk pengembangan Wayang Orang dan Eksplorasi Ballet Indonesia. Ekspolarasi terhadap ekspresi dua kutub budaya yang berbeda ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan secara sungguh-sungguh otentisitas dan keunikan masing-masing.
Sayap Jatayu adalah pemaknaan dan penceritaan ulang kisah Ramayana pada episode Penculikan Sinta dalam sebuah tampilan lintas budaya yang berpijak pada disiplin Tari Klasik Jawa dan Tari Klasik Ballet.
Sayap Jatayu adalah Konsep Panggung Konvensional yang secara artistik ditata ulang dan dikembangkan melalui penambahan elemen-elemen visual berbasis teknologi.
Pertunjukan kolaborasi Seni Budaya yang akan di gelar pada Minggu sore, 16 November 2025, berjudul Sayap Jatayu, Seblak Tanjak dan Rond De Jambe ini menampilkan sejumlah seniman muda berbakat, di antaranya Achmad Dipoyono sebagai Jatayu dan Adif Marhendra sebagai Rahwana. Mereka tampil bersama Nuksmarani Sri Cempasari, sebagai Dewi Sinta, Dhanurwenda sebagai Ramawijaya, Theresia Dian Louisa sebagai Kijang Emas, Haris Sakadian sebagai Lesmana Widagda, dan Thimoteus Dewa Dharma sebagai Kala Marica.
Produser Sayap Jatayu adalah Ira Surono, disutradarai oleh Nanang Hape. Koreografer Tari Ballet oleh Esther Tampubolon sedangkan Koreografer Tari Jawa adalah Achmad Dipoyono. Komposer oleh Vembriona Edy dan Nanang Hape, sedangkan Skenografer oleh Sugeng Yeah. Creative Visual oleh Prabudi Hatma Samarta serta Prapto Panuju sebagai Pelaksana Produksi.

Dalam kesempatan saat latihan gabungan pada Kamis, 6 November 2025, menuju proses pagelaran, Prapto Panuju selaku Pelaksana Produksi, memberikan keterangan, Pertunjukan “Sayap Jatayu” merujuk pada pertunjukan modern yang dibawakan oleh Wayang Kautaman, yang menceritakan ulang kisah heroik burung Jatayu dari epos Ramayana.”ungkap Panuju.
“Pertunjukan ini merupakan kolaborasi antara wayang orang klasik dan tari balet, yang diperkaya dengan teknologi visual modern dan musik gabungan gamelan Jawa dan tangga nada barat. Maknanya melambangkan keberanian, pengorbanan, dan cinta.” lanjut Panuju yang juga sekaligus seniman Wayang kulit modern yang sering tampil sebagai Dalang
Pertunjukan kolaborasi ini menggabungkan unsur-unsur wayang orang tradisional dengan tarian balet modern. Kolaborasi apik ini secara visual dan musik menggunakan panggung dinamis dengan visual modern dan musik yang memadukan gamelan Jawa pentatonik dengan tangga nada barat untuk menciptakan atmosfer emosional.

Sementara itu Nanang Hape selaku sutradara mengungkapkan, bahwa dalam menampilkan karya ini menggandeng Natalenta Ballet School Jakarta sebagai mitra kolaborasi dan juga Ira Surono bertindak sebagai produser. Melalui “Sayap Jatayu”, Wayang Kautaman berupaya menciptakan pertunjukan lintas budaya yang mampu beradaptasi dengan ruang, waktu, dan nalar tradisi masa kini.” Ungkap Nanang.
“Dalam pertunjukan kolaborasi di dalam Sayap Jatayu Tari Klasik Ballet dan Wayang Orang kami sandingkan bukan untuk membandingkan, tetapi untuk menemukan ruang baru bagi keduanya bernafas bersama,” Lanjut Nanang.

“Pagelaran ini melibatkan seniman muda dan dikerjakan oleh tim yang ahli dalam bidangnya masing-masing, termasuk koreografi, musik, skenografi, dan visual dan mampu menciptakan sebuah harmonisasi. Diharapkan pertunjukan “Sayap Jatayu” dari Wayang Kautaman menjadi sebuah karya inovatif modern yang mengadaptasi cerita klasik dengan teknik pertunjukan baru.” tandas Nanang Hape.






