Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

DAERAH

Kondisi Aceh Tamiang Mengenaskan Diungkap UBN: Meninggal karena Kelaparan

badge-check


					Foto: Pembina Laznas AQL Peduli, Ustaz Bachtiar Nasir ungkap kondisi korban bencana Sumatra, Ahad (14/12/2025) Perbesar

Foto: Pembina Laznas AQL Peduli, Ustaz Bachtiar Nasir ungkap kondisi korban bencana Sumatra, Ahad (14/12/2025)

INAnews.co.id, Jakarta– Pembina Laznas AQL Peduli, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), mengungkapkan kondisi mengenaskan di lokasi bencana Sumatra, khususnya Aceh Tamiang. Menurutnya, ini adalah bencana terburuk yang pernah ia tangani sepanjang pengalamannya dalam kemanusiaan.

“Tadi pagi, ketika kita antar bantuan, ada yang tidur dengan beratapkan puing-puing, dan dia masak dengan perasan air comberan. Sangat mengenaskan kondisi saudara-saudara kita di Tamiang,” ungkap Ustaz Bachtiar Nasir usai acara pelepasan bantuan di Masjid Baitul Maqdis AQL Islamic Center, Ahad (14/12/2025).

Ia mengonfirmasi pernyataan Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang menyatakan banyak korban meninggal bukan karena bencana tetapi karena kelaparan.

“Memang betul karena kelaparan. Pak Gubernur Muzakir Manaf saya lihat sebagai seorang pemimpin yang jujur, apa adanya, tidak malu berkata bahwa masyarakat Aceh banyak meninggal karena kelaparan,” katanya.

UBN menjelaskan bahwa hingga hari ke-10 pasca-bencana, masih banyak wilayah yang belum terjangkau bantuan. Berbeda dengan bencana tsunami yang bisa diakses dalam dua hari, kali ini 13 kecamatan terdampak dengan akses yang sangat sulit.

Tantangan terbesar adalah lumpur yang mengering dan mengeras setinggi 40-50 cm, membuat proses pembersihan sangat sulit. Untuk membersihkan satu masjid saja membutuhkan waktu dan tenaga luar biasa karena harus dimulai dari pinggir satu per satu.

Tim Laznas AQL Peduli harus mengubah strategi dari membagikan sembako menjadi mengirim ribuan nasi bungkus setiap hari. Mereka membentuk pasukan motor yang di Tamiang disebut “along-along” untuk menembus lorong-lorong dalam yang belum terjangkau NGO lainnya.

Kebutuhan mendesak saat ini mencakup 32.000 tenda, 50.000 kompor gas, mesin penyedot lumpur, serta pemulihan akses air bersih dan listrik. UBN juga mengkritik kurangnya respons masyarakat Indonesia terhadap bencana ini.

“Mungkin karena over information dari media sosial, jadi dianggap sebuah peristiwa biasa. Tetapi tidak terpanggil secara cepat untuk beraksi,” kritiknya.

Ia mengajak para pemuda di daerah terdekat untuk menjadi relawan karena kondisi relawan di lapangan sudah sangat kelelahan. “Ayo sisakan tenaga anda. Relawan di lapangan itu sudah lelahnya lelah extreme,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi

9 Januari 2026 - 22:52 WIB

Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango

9 Januari 2026 - 18:59 WIB

Pantai Pohon Cinta, Ikon Wisata Favorit di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo

8 Januari 2026 - 16:13 WIB

Populer DAERAH