INAnews.co.id, Jakarta– Mahfud MD menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik internal PBNU yang kini sudah sampai tahap saling memecat antara Rais Aam Miftachul Akhyar dengan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf.
“Agak susah ini NU ke depan kalau tidak segera melakukan islah. Kalau ini dibiarkan yang di bawah tuh jadi rusak,” ujar Mahfud dalam podcast Terus Terang yang diunggah Selasa (2/12/2024). Ia menyebut lebih dari 100 SK untuk PWNU dan PCNU tertahan di tingkat pusat, sehingga berhubungan dengan pemerintah untuk bantuan dana menjadi terhambat.
Sebagai warga Nahdliyin yang pernah menjadi penasehat GP Ansor dan Ketua Dewan Kehormatan ISNU, Mahfud merindukan NU yang taat pada ulama dan tidak rebutan proyek.
“Saya merindukan NU yang taat pada ulama, tidak rebutan proyek. Kalau dulu zaman itu kan kalau Kiai Asad ngomong udah diam, Kiai Ali Maksum ngomong diam, Kiai Ahmad Siddiq ngomong diam, yang lain semua mendengarkan. Sekarang ini ngomong malah yang ngomong yang diantem balik,” kenangnya.
Ia juga mengungkit bahwa konflik ini berawal dari masalah tambang. Mahfud mencontohkan KH Hasyim Muzadi dulu justru menggugat UU Pertambangan dan Migas agar hasilnya dikelola untuk rakyat, bukan meminta jatah tambang.
“Masa kita mau kayak gitu? Rugi dong, NU terlalu besar untuk dikorbankan dengan hal-hal yang kayak gini,” pungkasnya.






