INAnews.co.id, Jakarta– Anies Baswedan mengaitkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan krisis kepercayaan akibat maraknya korupsi di berbagai lini pemerintahan.
“Krisnya adalah bukan krisis pada persepsi saja, tapi krisisnya pada kepercayaan. Kenapa? Ya karena kita menyaksikan praktik penyimpangan yang ada di mana-mana sehingga keterpanggilan itu menjadi rendah,” ungkap Anies dalam Catalyst Impact Forum 2025 di Bandung, 3 Desember 2025.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjelaskan, syarat utama agar rakyat mau terlibat dalam pembangunan adalah negara harus dipercaya. Namun kepercayaan itu kini terkikis karena banyaknya kasus korupsi.
“Kalau bicara negara syaratnya apa? Negaranya dipercaya. Kalau negaranya enggak dipercaya enggak ada mau ikut. Baru manggil enggak ada mau ikut. Kalau dipercaya harusnya punya integritas,” jelasnya.
Anies mencontohkan era awal kemerdekaan ketika mahasiswa berbondong-bondong menjadi guru tanpa menanyakan insentif. Hal itu bisa terjadi karena pemerintah saat itu berhasil membangun kepercayaan dan kesadaran kolektif.
“Para mahasiswa menjadi guru itu enggak tanya juga besok dapat apa, insentifnya berapa. Tidak. Karena negara itu berhasil mengajak semua pihak punya kesadaran,” ujarnya.
Meski mengakui adanya krisis kepercayaan, Anies meyakini hal itu bisa dipulihkan. “Trust itu bisa dikembalikan. Enggak ada yang namanya trust itu tidak restorable. Trust is restorable,” tegasnya optimis.
Ia mengajak semua pihak yang bekerja di bidang pembangunan untuk mengembalikan pendekatan gerakan yang melibatkan partisipasi luas masyarakat.






