Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

EKONOMI

Proyeksi Suram 2026: Ekonomi Tetap 5 Persen

badge-check


					Foto: Ahmad Heri Firdaus/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ahmad Heri Firdaus/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 hanya 5,0 persen, lebih rendah dari target pemerintah 5,4 persen, karena tidak ada kebijakan fundamental yang mengatasi akar masalah.

Ahmad Heri Firdaus menegaskan, paket kebijakan 8+4+5 yang diluncurkan pemerintah pasca-demo hanya bersifat reaktif. “Stimulus konsumsi tidak ditopang perbaikan produktivitas. Ibaratnya tangan dibebasi tapi kaki tidak diberi kebebasan,” kritiknya.

“Kalau langkah 2026 masih sama dengan 2025, Indonesia akan semakin jauh jadi negara maju. Target 2045 bisa mundur ke 2055 atau bahkan lebih,” tambah Heri.

Rizal menambahkan, tidak ada kebijakan istimewa yang bisa “membuka pipeline ekonomi” yang tersumbat. “Meskipun Menteri Keuangan sudah dorong likuiditas, masih banyak penghambat di sistem ekonomi kita. Ada yang kerannya bocor, ada yang tertutup, pipanya kotor,” analoginya.

Eko Listiyanto menekankan, investasi yang terus meningkat tidak efisien menghasilkan pertumbuhan. “Nilai ICOR kita susah turun. Untuk menghasilkan satu unit output diperlukan lebih banyak modal dibanding Vietnam. Kita dipandang sebagai negara boros modal,” pungkasnya.

INDEF merekomendasikan perbaikan mendasar pada sektor riil, bukan sekadar menyuntik likuiditas yang hanya menghijaukan pasar saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

9 Januari 2026 - 08:39 WIB

Populer NASIONAL