INAnews.co.id, Jakarta– Dalam menjalankan tugas sebagai wakil menteri, Stella Christie punya filosofi kepemimpinan yang unik: selalu menimbang tiga parameter dalam setiap keputusan.
“Dalam setiap keputusan, dalam setiap yang saya lakukan, saya sungguh-sungguh memikirkan berapa besar dampaknya, mungkin terlaksana atau tidak, dan resistansi,” ungkap Stella menjelaskan prinsipnya dalam wawancara dengan Akbar Faizal, Kamis.
Parameter pertama adalah dampak (impact). Sebagai ilmuwan, ia ingin membawa perubahan nyata bagi Indonesia. Parameter kedua adalah keterlaksanaan (feasibility). “Keterlaksanaan bergantung kepada banyak hal, bahkan kepada DPR, kepada KL-KL lain,” jelasnya.
Parameter ketiga adalah resistensi. “Kalau resistansinya besar sekali atau kita yakin dampaknya akan sangat besar tetapi resistansinya juga sangat besar sekali, ini tidak bisa terlaksana,” katanya realistis.
Stella menekankan pentingnya empati dalam menghadapi resistensi. “Kita harus mempunyai empati untuk melihat apa sebenarnya yang diinginkan atau sebenarnya yang ditakutkan bahkan oleh masyarakat kita sehingga kita bisa meyakinkan ini sungguh dampaknya,” ujarnya.
Ia juga sadar tidak mungkin memuaskan semua orang. “Kita tidak bisa memberikan menyenangkan semua orang, tidak bisa memuaskan semua orang. Jadi pasti ada resistansi, pasti ada yang nyinyir, pasti itu pasti ada. Tidak apa. Itulah suatu ekosistem,” katanya dengan bijak.
Yang penting, menurutnya, adalah komunikasi yang relevan. “Bagaimana sebisa mungkin waktu kita menyampaikan itu bukan hanya saya berbicara ‘ini yang sudah saya kerjakan’, tetapi masyarakat bisa melihat ‘oh itu ada hubungannya dengan saya’,” jelasnya.






