Menu

Mode Gelap
Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu Pengamat: Wacana Pemilihan Kada oleh DPRD Hampir Dipastikan Terealisasi Umat Islam Harus Terus Bermikraj dalam Ilmu dan Kompetensi Pakar Ekonomi Syariah Ungkap Hikmah Isra Miraj Kemajuan Umat Islam Pasal Nikah dan Poligami dalam KUHP Bertentangan Konstitusi

DAERAH

Tukang Sapu China di Morowali Digaji Rp16 Juta

badge-check


					Foto: dok. tribunnews Perbesar

Foto: dok. tribunnews

INAnews.co.id, Jakarta– Praktik ketenagakerjaan di kawasan IMIP Morowali kembali menuai sorotan. Said Didu mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa tenaga kerja kasar China seperti tukang sapu mendapat gaji Rp16-17 juta per bulan, sementara tukang batu dibayar Rp25 juta.

“Coba bandingkan, gaji seorang kolonel dengan tunjangannya hanya Rp17 juta, tapi gaji tukang batu dari China yang dibayar dari hasil merampok sumber daya alam mencapai Rp25 juta,” ujar Said Didu dalam wawancara yang tayang Kamis (4/12/2025).

Menurutnya, kebijakan yang memudahkan masuknya tenaga kerja asing ke IMIP bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan yang mensyaratkan tenaga asing hanya untuk pekerjaan yang tidak bisa dilakukan tenaga lokal.

Said Didu menyebut Luhut Binsar Pandjaitan sebagai dalang di balik perubahan regulasi tersebut dengan dalih “proyek tungkai.”

“Yang dimaksud proyek tungkai itu proyeknya orang Indonesia dengan kontraktor asing. Ini proyeknya China, duitnya China. Proyek tungkai yang mana?” kritik Said Didu.

Ia memperkirakan ribuan tenaga kerja China bekerja di IMIP, mengambil peran yang seharusnya bisa dikerjakan putra-putri daerah setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango

9 Januari 2026 - 18:59 WIB

Pantai Pohon Cinta, Ikon Wisata Favorit di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo

8 Januari 2026 - 16:13 WIB

Pengangkatan Kepala Lingkungan Kelurahan Watulea yang Dinilai Cacat Prosedur Menuai kritik SAMURAIS

5 Januari 2026 - 10:29 WIB

Populer DAERAH