INAnews.co.id, Jakarta– Ironi terjadi ketika hanya dua minggu setelah KTT Iklim COP29 di Belem, Brazil, Indonesia dilanda bencana ekologis masif akibat Siklon Tropis yang dipicu krisis iklim.
“Indonesia tidak pernah menempatkan diri sebagai daerah berisiko tinggi bencana iklim di COP. Padahal kita tidak pernah membahas loss and damage secara serius,” ungkap Uli Arta, yang menghadiri COP29, diungkap Senin (1/12/2025).
Siklon tropis—fenomena langka di khatulistiwa—kini makin sering terjadi karena pemanasan permukaan air laut akibat krisis iklim. Ketika siklon mencapai daratan, infrastruktur ekologis yang rusak tidak mampu menahan dampaknya.
WALHI mengkritik keras kebijakan energi Indonesia yang justru akan memperparah situasi: rencana biofuel 100% membutuhkan 9 juta hektar lahan sawit baru yang akan mengancam hutan, tidak ada political will untuk phase out dari fosil, dan promosi perdagangan karbon.
“Kalau pertumbuhan 8% tetap jadi target, ada jutaan rakyat Indonesia terancam jiwanya 4 tahun ke depan. Logika ekonomi pertumbuhan adalah pembesaran eksploitasi,” tegas Uli.
Menteri Kehutanan dijanjikan akan mengevaluasi izin, namun WALHI menantang keseriusan tersebut: “Kami kasih datanya, kami kasih nama perusahaannya. Berani enggak? Kalau tidak berani, ya mundur saja menterinya.”






