Menu

Mode Gelap
Indonesia Terseret Permainan Trump: Pakar Sebut Pemerintah Kehilangan Kedaulatan Pakar: Perjanjian Dagang Prabowo-Trump Batal Demi Hukum, Presiden Langgar Konstitusi Rocky: Hanya Politik Mahasiswa yang Bermutu, Politisi Hanya Urusi Kepentingan Personal Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Peneliti: Mukjizat bagi Indonesia YLBHI Kecam Kesepakatan Prabowo dengan Trump Ngabuburit Dan Bukber Spesial Bersama Para Influencer otomotif Di Grand Opening Store Apparel TRACKER Cihampelas Bandung

POLITIK

Ada “Musuh dalam Selimut” di Pemerintahan Prabowo

badge-check


					Foto: dok. kontak banten Perbesar

Foto: dok. kontak banten

INAnews.co.id, Jakarta – Mengutip pernyataan Menteri Pertahanan, peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti mengingatkan adanya ancaman “musuh dalam selimut” di tubuh pemerintahan. Ia memperingatkan jika Presiden Prabowo Subianto dan kabinetnya bermain sendiri tanpa mendengar suara rakyat, mereka akan “digilas kekuatan lawan politik.”

“Seperti kata Menteri Pertahanan, adalah mereka-mereka yang berada di sebuah tempat yang sama tapi seperti musuh dalam selimut,” ujar Ikrar dalam unggahan YouTube-nya, Selasa (6/1/2026).

Peringatan ini disampaikan Ikrar dalam konteks dinamika politik yang kompleks di awal 2026, di mana ia melihat adanya pertarungan pencitraan antara kelompok yang ada di pemerintahan dengan kelompok yang ingin mengambil alih pemerintahan.

Ikrar menegaskan bahwa persaingan politik antara kubu Prabowo dan Jokowi akan terus berjalan meski tidak tampak di permukaan. Menurutnya, Presiden Prabowo tentu menginginkan keberlanjutan pemerintahannya hingga 2029, bahkan berpotensi maju lagi pada pemilu berikutnya.

“Yang namanya Presiden Prabowo Subianto tentunya juga ingin agar keberlanjutan pemerintahannya ini akan terus berlangsung paling tidak sampai 2029 dan kemudian kalau bisa dia maju lagi pada 2029,” jelasnya.

Di sisi lain, tekanan politik terhadap keluarga Joko Widodo juga semakin keras, mulai dari persoalan ijazah hingga berbagai tuduhan pelanggaran hukum. Kondisi ini menciptakan dinamika politik yang kompleks dan berpotensi merugikan rakyat.

Ikrar mengingatkan bahwa pemerintahan yang baik adalah yang memperhatikan suara rakyat dan mampu memberikan rasa aman serta kepercayaan kepada masyarakat. Ia menekankan pentingnya penyelesaian berbagai kasus, termasuk teror terhadap YouTuber dan persoalan hukum yang menimpa tokoh-tokoh politik.

“Kalau kemudian Prabowo dan juga kabinet dan juga para pendukungnya ini kemudian bermain sendiri tanpa memperhatikan suara-suara rakyat, tentunya Anda juga akan digilas oleh kekuatan lawan politik Anda,” tegasnya.

Peneliti senior tersebut menyerukan agar pemerintahan Prabowo fokus pada penanganan berbagai persoalan, termasuk bencana di Sumatera dan daerah lain di Indonesia, serta menyelesaikan kasus-kasus teror yang meresahkan masyarakat.

Ikrar juga mengingatkan bahwa sebuah pemerintahan akan memiliki citra baik jika mampu membuat rakyat merasa tenang dan percaya. Sebaliknya, jika mengabaikan aspirasi rakyat, pemerintahan tersebut akan kehilangan dukungan dan tergilas oleh dinamika politik yang ada.

“Ini yang namanya sebuah pemerintahan tentunya akan memiliki citra yang baik. Tapi kalau kemudian Prabowo dan juga kabinet dan juga para pendukungnya ini kemudian bermain sendiri tanpa memperhatikan suara-suara rakyat, tentunya Anda juga akan digilas oleh kekuatan lawan politik Anda,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Terseret Permainan Trump: Pakar Sebut Pemerintah Kehilangan Kedaulatan

26 Februari 2026 - 22:30 WIB

Rocky: Hanya Politik Mahasiswa yang Bermutu, Politisi Hanya Urusi Kepentingan Personal

26 Februari 2026 - 21:29 WIB

Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo

25 Februari 2026 - 20:45 WIB

Populer POLITIK