Menu

Mode Gelap
Lebih dari 300 Izin Tambang di Pulau Kecil Langgar UU Mempertanyakan Pertanggungjawaban Dana Jaminan Reklamasi Tambang UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan Deforestasi Legal Lebih Besar dari Ilegal Sidang Sengketa Lahan di Desa Sea Memanas, Saksi Ungkap Fakta Mengejutkan, BPN Diduga Terlibat Pemalsuan Data Auriga: Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dinilai “Pura-Pura”

KEUANGAN

BI Keliru Baca Sinyal Pasar sehingga Rupiah Tertekan

badge-check


					Foto: dok. akurat Perbesar

Foto: dok. akurat

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Abdul Manap Pulungan menilai Bank Indonesia (BI) keliru menangkap sinyal pasar dalam mengambil kebijakan moneter sepanjang 2024-2025, yang berujung pada depresiasi rupiah hingga menembus Rp16.777 per dolar AS.

Dalam diskusi publik “Depresiasi Rupiah dan Dilema Independensi Bank Indonesia” di Jakarta, Selasa (27/1/2026), Manap menyoroti kebijakan BI yang menurunkan suku bunga acuan pada April 2024, saat bank sentral negara lain justru tidak melakukan hal serupa.

“Ketika menangkap sinyal itu keliru, maka kebijakan pun akan keliru. BI menurunkan suku bunga sendiri sedangkan bank sentral lain tidak. Ini bisa dikatakan melawan pasar,” ujar Manap.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, menyebabkan capital outflow signifikan mencapai hampir Rp50 triliun pada 2025. Kondisi ini diperparah dengan kedalaman pasar valuta asing Indonesia yang sangat rendah, hanya US$7,01 miliar per hari, jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Manaf juga mencatat bahwa dari 2012 hingga 2025, hanya pada 2016, 2019, 2021, dan 2023 target nilai tukar rupiah dalam APBN tercapai. Tahun 2024 dan 2025 menjadi periode di mana rupiah sama sekali tidak pernah mencapai target sejak awal tahun.

Depresiasi rupiah yang melewati target APBN berpotensi meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp26 triliun, mengingat target nilai tukar APBN 2025 ditetapkan Rp16.000 namun terealisasi Rp16.775 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Risiko Fiskal Dominance terhadap BI

28 Januari 2026 - 16:20 WIB

Bank Banten (BEKS) Gelar RUPSLB Bahas Perubahan Pengurus

23 Januari 2026 - 15:03 WIB

Maraknya Investasi Ilegal, CWIG Soroti Lemahnya Perlindungan Publik

18 Januari 2026 - 01:13 WIB

Populer EKONOMI