INAnews.co.id, Jakarta– Pembentukan Danantara sebagai dana abadi kedaulatan diproyeksikan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hampir 3 persen di fase awal, kemudian stabil sekitar 2 persen di atas baseline dalam jangka panjang. Hal ini terungkap dalam diskusi publik bertajuk “Realokasi Anggaran untuk Pembangunan Strategis via Danantara dan MBG” yang diselenggarakan INDEF, Rabu (8/1/2026).
Prof. Firmansyah, Guru Besar FEB Universitas Diponegoro yang mempresentasikan hasil simulasi, menjelaskan Danantara bekerja bukan dengan mendorong permintaan agregat, tetapi dengan memperbaiki mesin produksi ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan akumulasi kapital.
“Ketika produktivitas dan insentif investasi membaik, kapital terakumulasi lebih besar dan itulah yang mengangkat PDB secara keseluruhan. Ini bukan lonjakan sementara tapi pergeseran level pertumbuhan,” paparnya.
Simulasi menggunakan model OG Indonesia membagi dampak Danantara dalam empat fase: pembentukan kelembagaan (2025-2027), akselerasi investasi (2028-2030), konsolidasi (2031-2040), dan pematangan (2041-2045).
Stok kapital diproyeksikan meningkat hampir 3 persen, menjadi pendorong utama pertumbuhan. Konsumsi agregat naik bertahap hingga 1,5 persen, sementara suku bunga riil lebih rendah secara persisten yang mendukung iklim investasi.
Prof. Firmansyah menegaskan kunci keberhasilan Danantara terletak pada tiga hal: produktivitas, investasi tepat sasaran pada sektor bermultiplier tinggi, dan keberlanjutan jangka menengah-panjang.
Dari sisi fiskal, Danantara terbukti sustainable dengan rasio utang terhadap PDB yang stabil dan basis pajak yang melebar tanpa menaikkan tarif.






