INAnews.co.id, Jakarta– Prof. Nadirsyah Hosen menjelaskan keunikan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki struktur organisasi berbeda dengan ormas modern lainnya.
“NU harus dibedakan: ada jamiyah (organisasi) dan jamaah (masyarakat). Keputusan PBNU belum tentu ditaati jamaah. Jamaah lebih ikut kiai lokal,” ungkap Gus Nadir di kanal YouTube-nya Mahfud MD Official, Ahad.
Menurutnya, ini menjadi kelebihan sekaligus kelemahan. “Kelebihannya, NU tidak bisa dikooptasi. Kepala dipegang, ekor belum tentu ikut. Apalagi kalau kepalanya Gus Dur—kepala pun tidak bisa dipegang,” kata dosen Melbourne Law School ini.
Namun kelemahannya, sering terjadi ketidaknyambungan antara kebijakan organisasi dengan kebutuhan jamaah di bawah. “Jamaah NU lebih ritual-oriented. Tahlilan, maulidan—meski tidak punya kartu NU, mereka merasa NU,” jelasnya.
Gus Nadir optimistis konflik internal NU akan terselesaikan seperti masa lalu. “Dulu konflik tajam antara Kiai Wahab dan Kiai Bisri melahirkan Gus Dur. Ke depan mungkin bukan sosok, tapi solusi kolektif,” katanya.
Mahfud MD menambahkan, tradisi NU kini bahkan diadopsi berbagai kalangan. “Di istana ada tahlilan, pejabat kalau mantu pakai selawatan. Bukan berarti mereka NU, tapi tradisinya masuk jadi budaya Islam Indonesia,” ujarnya.






