INAnews.co.id, Jakarta– Harga minyak dunia di 2026 diprediksi bergerak sangat volatile antara dua skenario ekstrem: anjlok ke 50 dolar per barel atau melesat di atas 70 dolar per barel. Semuanya tergantung pada perkembangan geopolitik global yang semakin tidak terprediksi.
“Outlook-nya semakin sulit untuk diprediksi karena situasi geopolitik global bisa berubah-rubah. Ini tergantung mood-nya Trump dan juga respon dari negara-negara lain,” kata Abra Talattov, Kepala Center Food Energy and Sustainable Development INDEF, Selasa (13/1/2026).
Skenario Bearish: Harga Turun ke $50
Dalam skenario ini, produksi Venezuela meningkat drastis hingga 5 juta barel per hari sesuai rencana Trump. Pasokan minyak global akan berlimpah meski OPEC mencoba mengurangi produksi untuk menahan harga.
Harga minyak yang saat ini di kisaran 56-60 dolar per barel bisa turun mendekati atau bahkan di bawah 50 dolar. “Kalau sekarang range 56 sampai 60-an, bisa mendekati 50 atau bahkan di bawah 50 dolar per barel,” proyeksi Abra.
Untuk setahun ini saja, harga minyak mentah sudah turun sekitar 22-24% year on year. Penurunan lebih lanjut akan merugikan perusahaan minyak global, termasuk di Amerika sendiri, dan menjadi disinsentif bagi investasi hulu migas.
Skenario Bullish: Harga Melesat di Atas $70
Skenario sebaliknya terjadi jika muncul eskalasi baru di berbagai kawasan. Abra mengidentifikasi beberapa hotspot potensial:
- Timur Tengah: Tensi meningkat di wilayah Yaman dengan proksi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab
- Asia Timur: Risiko pergerakan China ke Taiwan
- Timur Tengah: Ancaman Trump kepada Iran yang tengah bergejolak dengan demonstrasi domestik
- Greenland: Keinginan Trump menguasai wilayah ini memicu ketegangan dengan Eropa
- Amerika Latin: Kemungkinan intervensi AS ke negara-negara lain di kawasan
“Negara-negara produsen minyak pasti akan ada respon untuk menciptakan agar harga minyak naik dengan menciptakan eskalasi baru,” kata Abra.
Jika salah satu atau beberapa eskalasi ini terjadi, harga minyak bisa kembali melonjak di atas 70 dolar per barel, bahkan berpotensi menembus 100 dolar seperti saat perang Rusia-Ukraina.OPEC Bersiap Kurangi Produksi
OPEC telah mendiskusikan rencana mengurangi produksi untuk menahan harga yang dianggap terlalu rendah dan merugikan negara-negara penghasil minyak. Namun rencana ini bisa sia-sia jika AS benar-benar menggenjot produksi Venezuela.
“Rencana OPEC untuk mengurangi produksi akan menjadi sia-sia karena akan ada tambahan pasokan dari Venezuela,” jelas Abra.
Implikasi untuk Indonesia
Bagi Indonesia, kedua skenario memiliki implikasi berbeda:
- Harga turun: Menguntungkan fiskal dan konsumen, tapi merugikan investasi hulu migas
- Harga naik: Menguntungkan PNBP dan investor hulu migas, tapi membebani subsidi dan inflasi
- “Ada dua sisi yang harus bisa disimbangkan pemerintah, sisi positif maupun sisi negatif,” pungkas Abra.
Dalam seminggu ke depan diprediksi masih akan muncul banyak kejutan yang bisa mengubah arah pergerakan harga minyak secara drastis.






