INAnews.co.id, Jakarta– Guru Besar Hukum Tata Negara UGM, Prof. Zainal Arifin Mochtar, mengungkapkan kegagalan mendasar demokrasi Indonesia terletak pada pemilu yang tidak jujur dan adil (jurdil) serta upaya sistematis mematikan oposisi. Menurutnya, setiap presiden di Indonesia menjadikan penghancuran oposisi sebagai pekerjaan rumah pertama.
Dalam wawancara dengan Akbar Faizal yang tayang Senin (5/1/2025), Zainal menjelaskan bahwa demokrasi Indonesia mengalami penurunan karena lembaga-lembaga negara gagal mengawal proses demokratis. “Yudikatif dijinakkan, eksekutif bermain dengan legislatif untuk mematikan oposisi,” ujarnya.
Zainal menekankan bahwa Indonesia tidak memberikan insentif apa pun bagi partai oposisi, sehingga menjadi oposisi seperti “lillahi taala” tanpa ada keuntungan. Ia membandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki insentif elektoral sehingga partai berkuasa bergonta-ganti.
“Harusnya partai oposisi mendapatkan bantuan dana yang lebih besar. Ada beberapa negara yang pernah mencoba itu,” usulnya.






