INAnews.co.id, Jakarta– Presiden AS Donald Trump tidak lagi menyembunyikan niat sebenarnya di balik penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Setelah aksi militer di Caracas awal 2026, Trump secara terbuka menyatakan akan mengambil alih pengelolaan sumber daya alam Venezuela, terutama migas dan mineral langka.
“Ini sangat jelas bahwa faktor geopolitik plus geoekonomi menjadi background kenapa pemerintahan Trump sangat brutal, ngobrak-abrik dan merusak kedaulatan sebuah negara,” kata Abra Talattov, Kepala Center Food Energy and Sustainable Development INDEF dalam diskusi di kanal YouTube INDEF, Selasa (13/1/2026).
Venezuela dipilih bukan tanpa alasan. Negara Amerika Latin ini memiliki cadangan minyak terbukti 303 miliar barel atau sekitar 20 persen dari total cadangan dunia, lebih besar dari Arab Saudi. Namun akibat sanksi AS selama bertahun-tahun, produksi Venezuela hanya berkisar 1 juta barel per hari, jauh di bawah potensinya.
Trump bahkan telah mengumumkan rencana ambisius: memperbolehkan pemerintahan transisi Venezuela memproduksi minyak hingga 5 juta barel per hari. Lonjakan produksi ini berpotensi membanjiri pasar minyak dunia dan menekan harga lebih jauh.
Timing serangan AS juga mencurigakan. Aksi militer dilakukan sehari setelah Maduro bertemu dengan utusan tinggi China dari Presiden Xi Jinping. Abra menilai ini sebagai peringatan keras kepada Beijing.
“Amerika tidak ingin negara-negara di kawasan benua Amerika memiliki relasi kuat dengan China. Khawatir bukan hanya kerja sama ekonomi, tapi juga kerja sama militer dan pertahanan yang bisa mengganggu keamanan Amerika,” jelasnya.
Selain minyak, Trump juga mengincar mineral langka (rare earth) Venezuela yang sangat penting untuk industri pertahanan dan teknologi tinggi.
Aksi Trump memicu kecaman internasional, tidak hanya dari China dan Rusia, tetapi juga negara-negara aliansi NATO. Namun dalam beberapa hari terakhir, pemimpin Amerika Latin seperti Kolombia mulai melunak dan mencari dialog dengan Washington.
“Kelihatan akan terjadi transisi secara smooth di Amerika Latin. Amerika sepertinya akan berhasil melakukan konsolidasi politik di wilayah kawasan Amerika Latin. Ini akan menjadi kelemahan bagi China dan Rusia,” kata Abra.
Trump juga telah melontarkan ancaman kepada negara-negara Amerika Latin lainnya seperti Kolombia, Kuba, dan Meksiko, sambil mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang keinginan menguasai Greenland yang memicu ketegangan dengan negara-negara Eropa.
Para analis memperingatkan bahwa tindakan Trump menciptakan preseden berbahaya bagi kedaulatan negara-negara lain di dunia.






