INAnews.co.id, Jakarta- Dalam ceramah Isra Miraj yang ditayangkan di kanal YouTube-nya, Ahad (11/1/2026), Profesor Muhammad Syafi’i Antonio mengajak umat Islam untuk terus “bermikraj” atau naik level dalam berbagai aspek kehidupan.
“Mikraj bukan hanya perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, tetapi simbol bahwa kita harus naik tingkat demi tingkat dalam ilmu dan kompetensi,” ujar pakar ekonomi syariah ini.
Prof. Syafi’i menjelaskan bahwa konsep tujuh lapis langit dalam Isra Miraj bukan angka literal, melainkan simbol dari “many”—banyaknya tingkatan yang harus dicapai umat Islam. Ia mencontohkan bagaimana setelah menguasai ilmu faraid, seorang Muslim harus naik ke fikih zakat, lalu fikih ibadah, kemudian artificial intelligence, kinetic science, hingga data analytics.
“Seolah-olah kita disuruh naik ke langit kedua, ketiga, keempat. Artinya kita terus-menerus menaikkan diri. Itulah mikrajul mukmin al-yaum—mikraj kaum muslimin hari ini,” jelasnya.
Ia mengkritisi generasi Z yang kesulitan menabung dan berinvestasi karena pola konsumsi tinggi. “Investasi adalah fungsi dari saving. Saving adalah fungsi dari consumption. Seseorang tidak bisa nabung jika konsumsinya tinggi. Ini soal kesabaran untuk menangguhkan konsumsi berlebihan,” tegasnya.
Prof. Syafi’i juga menyoroti fenomena FOMO (fear of missing out) yang membuat banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif, mengikuti tren iPhone terbaru atau menghabiskan uang di kafe, alih-alih menabung untuk masa depan.
Dalam konteks teknologi, ia memperingatkan bahaya TikTok yang algoritmanya dirancang untuk membuat pengguna ketagihan. “Dalam 5 menit scrolling TikTok, entah berapa puluh video pendek yang kita lihat, bercampur antara halal, syubhat, dan haram. Tanpa akidah yang kuat, kita akan melihat hal-hal yang diharamkan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan tantangan parenting di era digital di mana informasi tidak lagi melalui filter orang tua atau guru, tetapi langsung masuk ke kamar anak melalui smartphone. “Serangan konten langsung masuk ke handphone anak kita. Ayah ibu tidak punya kesempatan untuk menyaring,” ujarnya.
Prof. Syafi’i menutup dengan mengutip Muhammad Iqbal: “Langit bukan batas bagi jiwa yang beriman.” Ia berharap umat Islam dapat terus bermikraj dalam ilmu, kompetensi, dan kontribusi untuk peradaban.






