INAnews.co.id, Jakarta– Kementerian Kebudayaan di bawah Fadli Zon tengah menjalankan proyek penulisan sejarah nasional Indonesia secara komprehensif, melibatkan 125 sejarawan dari 34 perguruan tinggi. Namun proyek ini menuai pertanyaan serius karena sang menteri mengakui adanya arahan agar narasi yang dibangun bernada positif.
“Saya memperlihatkan bahwa ya perlu ada satu tone yang positiflah gitu ya,” kata Fadli dalam wawancara yang ditayangkan Rabu (18/2/2026).
Penulisan sejarah dalam 11 jilid ini mencakup periode dari 1,8 juta tahun lalu hingga pelantikan Presiden Prabowo. Fadli menyebut Indonesia selama ini belum memiliki satu buku sejarah yang runut dan komprehensif sejak buku Sejarah Nasional Indonesia karya Sartono Kartodirdjo diterbitkan puluhan tahun lalu.
Meski menyatakan tidak mengintervensi substansi tulisan para sejarawan, Fadli mengakui bahwa hal-hal yang bersifat negatif atau kekurangan para pemimpin cukup diserahkan kepada penelitian individual di luar proyek resmi ini. Kritikus menilai arahan “tone positif” dari pejabat pemerintah berpotensi menghasilkan sejarah yang tidak objektif dan berpihak pada kepentingan kekuasaan.






