INAnews.co.id, Jakarta– Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengusung tema “Ramadhan Bahagia dengan Berzakat” untuk program Ramadan 1447 Hijriah. Filosofi kebahagiaan dalam berbagi menjadi landasan delapan program tematik yang dirancang menyasar 400 ribu penerima manfaat di 36 provinsi Indonesia serta Palestina dan Bosnia.
Direktur Utama BMH Supendi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/2/2026), menekankan bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan penerima zakat, tetapi juga pemberi. Ia mengutip hasil survei yang menunjukkan ketika seseorang memberi, otak akan terstimulus menghasilkan hormon dopamin yang membuat gembira dan bahagia.
“Kebahagiaan dalam berbagi akan menciptakan efek berantai. Kalau penduduk Indonesia banyak yang bahagia karena berzakat dan bersedekah, secara otomatis negara ini akan sejahtera, aman, dan tenang,” ujar Supendi.
Supendi juga melaporkan penghimpunan dana BMH tahun 2025 mencapai Rp302 miliar, naik 12,3 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp269 miliar. Capaian ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme lembaga dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah.
Menjawab Tantangan Sosial dan Kemanusiaan
Direktur Programdaya BMH Syamsuddin menjelaskan bahwa program Ramadan tahun ini merespons berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia. Bencana banjir yang melanda tiga provinsi di Sumatera sejak 1 Januari hingga 10 Februari 2026 telah mengakibatkan lebih dari 1 juta orang terdampak dan 194 orang meninggal dunia.
Kondisi ini memperparah ketimpangan ekonomi yang sudah ada, di mana 23 juta orang Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 3,98 juta anak belum mengakses pendidikan formal, dengan 1,9 juta di antaranya belum pernah bersekolah. Banyak guru honorer juga masih menerima upah minim.
“Yang paling terdampak bencana adalah kelompok mustahik, orang-orang fakir dan miskin. Rumah-rumah papan mereka banyak yang hancur. Ketika kondisi ini bertemu dengan Ramadan, kami berharap keberkahan Ramadan bisa memberikan kebahagiaan untuk mereka,” kata Syamsuddin.
Delapan Program Tematik Ramadan
Direktur Programdaya BMH Syamsuddin menjelaskan bahwa BMH meluncurkan delapan program tematik untuk Ramadan tahun ini. Program tersebut dirancang sebagai ekosistem dampak yang komprehensif, bukan sekadar kegiatan konsumtif.
1. Bahagia Berbagi Buka Puasa dan Sahur
Program berbagi makanan buka puasa dan sahur untuk masyarakat yang membutuhkan.
2. Berbagi Senyum: Ibadah dan Dakwah
BMH bersama Kementerian Agama memberangkatkan 1.500 dai untuk berdakwah selama Ramadan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan perbatasan negeri. Program ini juga mencakup Aksi Peduli Masjid dengan target 100 masjid di daerah terdampak bencana untuk penyaluran sarana ibadah seperti karpet dan sound system.
3. Wakaf Pembangunan
Memfasilitasi masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan masjid, sekolah, dan asrama.
4. Bahagia Berbagi untuk Palestina
Mendatangkan imam dari Palestina yang akan berkeliling ke berbagai provinsi untuk menyampaikan kondisi terkini masyarakat Palestina. Program ini juga menyalurkan bantuan buka puasa dan sahur untuk warga Palestina di Gaza dan pengungsi di Jordan serta Mesir.
5. Berbagi Kebahagiaan Ramadan
Menyasar anak-anak yatim piatu, guru ngaji, dan guru honorer dengan belanja yatim dan bingkisan Ramadan.
6. Dapur Kebahagiaan Ramadan
Menginisiasi dapur yang melayani warga sekitar, terutama di daerah terdampak bencana dan melalui jaringan 36 pesantren BMH di seluruh Indonesia.
7. Bekal Akhirat
Memfasilitasi wakaf tanah, sawah, motor dakwah, dan rumah untuk dai.
8. Bahagia Berbagi untuk Penyintas Bencana
Fokus pada korban bencana banjir di tiga provinsi Sumatera (Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh) yang melanda sejak awal tahun 2026.
Program Berkelanjutan, Bukan Konsumtif
Syamsuddin menegaskan bahwa meskipun terlihat konsumtif seperti berbagi makanan, program-program BMH dirancang dengan pendekatan sistematis dan evaluasi berkelanjutan untuk menghasilkan dampak jangka panjang.
“Ketika kita memberikan menu buka puasa, yang mereka terima memang nasi kotak, tapi yang mereka rasakan adalah ketenangan batin. Mereka tidak harus berhutang untuk menyiapkan buka puasa, dan penghasilan bisa digunakan untuk memperbaiki rumah,” jelasnya.
BMH juga menyediakan pendidikan gratis dari SD hingga perguruan tinggi melalui 10 perguruan tinggi dan jaringan pesantren di 36 provinsi. Setiap tahun, lulusan ditugaskan ke daerah-daerah sebagai guru, dai, atau penggerak ekonomi keumatan.
Target dan Komitmen Profesionalisme
BMH menargetkan rasio pendistribusian minimal 80 persen dari dana yang terkumpul, dengan 80 persen donatur terkonsolidasi dengan baik dan data tervalidasi. Lembaga juga berkomitmen memastikan penerima manfaat merasa puas dengan layanan yang diberikan.
“Selama Ramadan, tim BMH akan menyajikan laporan mingguan dan laporan akhir program. Kami sudah siapkan SOP dan juknis agar implementasi berstandar di semua daerah, baik di Jakarta, Papua, Sulawesi, maupun daerah lainnya,” kata Syamsuddin.
Dengan delapan program tematik dan jaringan luas di 36 provinsi, BMH berharap dapat menghadirkan kebahagiaan Ramadan bagi ratusan ribu mustahik dan masyarakat yang membutuhkan. Di tingkat global, BMH juga terus menunjukkan solidaritas kepada saudara Muslim di Palestina, Sudan, dan Yemen yang masih mengalami konflik kemanusiaan.






