INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti meragukan niat di balik rencana rekonstruksi Gaza senilai puluhan hingga ratusan miliar dolar yang dijanjikan Donald Trump dalam kerangka Board of Peace (BOP). Ikrar mencurigai proyek ambisius itu lebih banyak menguntungkan kepentingan bisnis keluarga Trump ketimbang rakyat Palestina.
“Pertanyaan saya, pembangunan Gaza untuk siapa? Untuk kepentingan siapa?” ujar Ikrar dalam kanal YouTube-nya, Rabu (18/2/2026).
Ikrar menyebut Trump berencana membangun gedung pencakar langit dan hotel-hotel di atas lahan Gaza — yang disebutnya sebagai proyek “leisure time” — sembari menyisihkan sebagian kecil wilayah untuk warga Palestina. Bagi Ikrar, ini menimbulkan pertanyaan mendasar soal kepemilikan tanah: milik siapa, dan diperuntukkan bagi siapa.
Ia juga mempertanyakan legitimasi Trump dalam menggagas BOP. Menurut Ikrar, Trump bertindak bukan sebagai Presiden Amerika Serikat yang mewakili negaranya, melainkan sebagai individu yang mengejar kepentingan pribadi. Ia bahkan memperingatkan bahwa kekuasaan Trump di BOP bisa melampaui masa jabatan kepresidenannya, sehingga presiden AS terpilih berikutnya pun berpotensi tidak memiliki kendali atas nasib perdamaian Gaza.
Ikrar menegaskan bahwa perdamaian sejati di Palestina hanya mungkin terwujud melalui solusi dua negara (two state solution), dengan melibatkan otoritas resmi Palestina — bukan pemerintahan boneka yang dikendalikan Israel dan Amerika Serikat. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga kini secara terang-terangan menolak solusi dua negara tersebut.






