Menu

Mode Gelap
Prabowo di US-Indonesia Business Roundtable Summit: Indonesia Bukan Pasar Biasa Ironi Penegakan Hukum: Aktivis Literasi Diburu, Massa Penjarah Terorganisir Lolos Tragedi Berdarah Agustus: Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Pasca-Reformasi 125 Sejarawan Dilibatkan dalam Penulisan Ulang Sejarah Lingkungan Hidup di Kaimana: Harmoni Alam yang Perlu Dijaga Bersama Prabowo di Washington: RI Tak Pernah Sekali Pun Gagal Bayar Utang

GLOBAL

BOP Versi Trump Bukan untuk Palestina, tapi untuk Kepentingan Keluarganya

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti meragukan niat di balik rencana rekonstruksi Gaza senilai puluhan hingga ratusan miliar dolar yang dijanjikan Donald Trump dalam kerangka Board of Peace (BOP). Ikrar mencurigai proyek ambisius itu lebih banyak menguntungkan kepentingan bisnis keluarga Trump ketimbang rakyat Palestina.

“Pertanyaan saya, pembangunan Gaza untuk siapa? Untuk kepentingan siapa?” ujar Ikrar dalam kanal YouTube-nya, Rabu (18/2/2026).

Ikrar menyebut Trump berencana membangun gedung pencakar langit dan hotel-hotel di atas lahan Gaza — yang disebutnya sebagai proyek “leisure time” — sembari menyisihkan sebagian kecil wilayah untuk warga Palestina. Bagi Ikrar, ini menimbulkan pertanyaan mendasar soal kepemilikan tanah: milik siapa, dan diperuntukkan bagi siapa.

Ia juga mempertanyakan legitimasi Trump dalam menggagas BOP. Menurut Ikrar, Trump bertindak bukan sebagai Presiden Amerika Serikat yang mewakili negaranya, melainkan sebagai individu yang mengejar kepentingan pribadi. Ia bahkan memperingatkan bahwa kekuasaan Trump di BOP bisa melampaui masa jabatan kepresidenannya, sehingga presiden AS terpilih berikutnya pun berpotensi tidak memiliki kendali atas nasib perdamaian Gaza.

Ikrar menegaskan bahwa perdamaian sejati di Palestina hanya mungkin terwujud melalui solusi dua negara (two state solution), dengan melibatkan otoritas resmi Palestina — bukan pemerintahan boneka yang dikendalikan Israel dan Amerika Serikat. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga kini secara terang-terangan menolak solusi dua negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Prabowo di US-Indonesia Business Roundtable Summit: Indonesia Bukan Pasar Biasa

20 Februari 2026 - 20:55 WIB

Prabowo di Washington: RI Tak Pernah Sekali Pun Gagal Bayar Utang

20 Februari 2026 - 12:56 WIB

Presiden Prabowo Hadiri Penandatanganan Perjanjian Tarif Resiprokal dengan AS

13 Februari 2026 - 11:26 WIB

Populer GLOBAL