Menu

Mode Gelap
Audit Ungkap 152 Nama dan Rp3,3 Miliar Kerugian Negara, Mengapa Hanya Enam Terdakwa Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh Meragukan Arah Pemerintahan Prabowo: Pintu yang Sama dengan Jokowi

SYARIAH

Ekonomi Syariah Butuh “Konduktor Handal”

badge-check


					Foto: Hakam Naja/tangkapan layar Perbesar

Foto: Hakam Naja/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pengembangan ekonomi syariah Indonesia dinilai memerlukan “konduktor handal” yang mampu mengoordinasikan seluruh kementerian dan lembaga terkait. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dipandang sebagai posisi tepat untuk menjadi orkestrator kebijakan utama.

Hakam Naja menjelaskan, ekosistem ekonomi syariah memiliki delapan layer yang saling terkait, mulai dari regulator seperti Bank Indonesia, OJK, hingga pelaku usaha dan masyarakat. “Semua ini harus terorkestrasi dengan baik dalam satu kerangka tujuan yang sama,” katanya.

Pada layer keenam, Kemenko Perekonomian diposisikan sebagai policy orchestrator yang berfungsi mengkoordinasikan, menyelaraskan, dan mengintegrasikan seluruh kebijakan lintas kementerian dan lembaga dalam pengembangan ekonomi syariah nasional.

Kemenko Perekonomian diharapkan memastikan kebijakan dari Bank Indonesia, OJK, Kementerian Keuangan, BAPPENAS, Kementerian Perdagangan, Perindustrian, Kesehatan, Pariwisata, BKPM, Koperasi, UMKM, hingga BPJPH berjalan dalam satu arah.

“Tanpa orkestrasi yang baik, semua potensi besar kita tidak akan maksimal. Butuh konduktor yang kuat untuk memimpin simfoni ekonomi syariah ini,” tambah Hakam.

Saat ini, Indonesia memiliki KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) yang hanya berstatus komite berdasarkan perpres. Ke depan, diharapkan ada badan setingkat kementerian dengan kewenangan eksekutif penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Industri Halal Butuh Tiga Langkah Besar agar Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan

23 Februari 2026 - 09:31 WIB

Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM Banyak yang Tidak Tahu

23 Februari 2026 - 07:30 WIB

Indonesia Masih Kalah dari Negara Non-Muslim dalam Ekspor Produk Halal

23 Februari 2026 - 05:27 WIB

Populer SYARIAH