Menu

Mode Gelap
Boikot Produk AS tak Bersertifikat Halal Indonesia Masih Kalah dari Negara Non-Muslim dalam Ekspor Produk Halal KUHP dan KUHAP Baru Dinilai Berpotensi Perluas Kriminalisasi Dunia Usaha Menjaga Lingkungan Danau Toba di Samosir dari Limbah Prabowo di US-Indonesia Business Roundtable Summit: Indonesia Bukan Pasar Biasa Ironi Penegakan Hukum: Aktivis Literasi Diburu, Massa Penjarah Terorganisir Lolos

POLITIK

Kebijakan Sekolah KDM Populer, tapi Pertanyaan soal Landasan Akademis Menguat

badge-check


					Foto: Firman Manan/tangkapan layar Perbesar

Foto: Firman Manan/tangkapan layar

INAnews.co.id, Bandung– Serangkaian kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait dunia pendidikan mendapat sambutan hangat dari warga provinsi. Mulai dari larangan study tour, wisuda, dan perpisahan, pelarangan siswa menggunakan kendaraan bermotor, pemberlakuan jam malam bagi pelajar, hingga pengiriman siswa bermasalah ke barak militer, semuanya mendapat tingkat persetujuan di atas 90 persen. Namun kebijakan-kebijakan itu juga menuai pertanyaan tentang landasan akademisnya.

Survei Indikator Politik Indonesia mencatat 88,3 persen warga Jawa Barat mengetahui kebijakan larangan study tour. Dari yang mengetahuinya, 91,4 persen menyatakan puas. Sementara itu, kebijakan pengiriman siswa bermasalah ke barak militer diketahui oleh 91,3 persen warga, dengan tingkat kepuasan mencapai 95,6 persen di antara yang mengetahuinya.

“Ini program-program yang bisa langsung terasa dan dianggap berpihak kepada masyarakat. Itu yang biasanya tingkat kepuasannya tinggi,” kata Ketua Persepi Djayadi Hanan.

Infrastruktur Unggul, Ekonomi Ketinggalan

Pola yang sama juga terlihat dalam program di luar pendidikan. Program pembangunan dan perbaikan jalan diketahui 73,2 persen warga dan mendapat kepuasan tinggi. Program pemasangan listrik gratis bagi warga miskin diketahui 61,6 persen warga. Program normalisasi sungai dan pembongkaran hunian liar diketahui 73,5 persen warga.

Firman Manan menghubungkan pola ini dengan strategi penempatan tim birokrasi yang dilakukan KDM. Kepala dinas yang didatangkan dari Purwakarta terkonsentrasi di sektor-sektor yang mendapat rapor bagus: pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.

“Kalau kita lihat, yang tingkat kepuasannya relatif tinggi itu infrastruktur, kesehatan, pendidikan. Dan ini kebetulan dinas-dinas yang kepalanya dari Purwakarta. Tapi soal-soal terkait kemiskinan, ekonomi, kok rendah. Jangan-jangan memang belum ada timnya,” kata Firman dengan nada kritis.

YouTube Jadi Mesin Pencitraan

Pertanyaan soal peran media sosial dalam membentuk persepsi publik juga mengemuka dalam diskusi. KDM memiliki kanal YouTube dengan 8,8 juta subscriber yang secara konsisten menampilkan konten aktivitas gubernur di lapangan, seringkali diakhiri dengan penyelesaian masalah yang dramatis dan membahagiakan warga.

“Dalam sehari ada dua konten yang bercerita tentang apa yang dilakukan oleh KDM. Narasinya dari point of view pembuat konten. Apakah itu mempengaruhi persepsi publik yang melihat channel YouTube itu dan menjadi responden survei? Bisa saja,” ujar Firman. Ia mengingatkan pentingnya keberadaan media-media pengimbang yang memberikan informasi lebih berimbang kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

KUHP dan KUHAP Baru Dinilai Berpotensi Perluas Kriminalisasi Dunia Usaha

23 Februari 2026 - 04:13 WIB

125 Sejarawan Dilibatkan dalam Penulisan Ulang Sejarah

20 Februari 2026 - 15:58 WIB

DPR Bungkam soal Kekacauan MBG, Malah Sibuk Jual Dukungan untuk Pilpres 2029

18 Februari 2026 - 23:56 WIB

Populer POLITIK