INAnews.co.id, Jakarta– Meski aset perbankan syariah Indonesia telah melampaui Rp 1.000 triliun pada November 2025, pangsa pasarnya masih tertahan di angka 7,59 persen. Kondisi ini dinilai sangat paradoks mengingat Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia dengan 230 juta jiwa.
Data yang dipaparkan dalam diskusi publik CSET INDEF menunjukkan, terjadi kesenjangan signifikan antara jumlah penduduk muslim yang mencapai 87 persen dari total populasi dengan penetrasi bank syariah yang hanya 7,44 persen.
Hakam Naja, peneliti CSET INDEF, menyebut fenomena ini sebagai “glass ceiling” atau jebakan single digit. “Perbankan syariah kita mengalami single digit trap meskipun sudah ada lebih dari 3 dekade sejak Bank Muamalat pertama kali didirikan pada 1992,” katanya.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya rasio pembiayaan yang hanya mencapai Rp 698 triliun atau masih di bawah 20 persen dari total aset. Hakam menilai perbankan syariah menghadapi isu struktural berupa kurangnya permodalan dan diferensiasi produk yang masih terkesan sekadar islamisasi produk konvensional.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan transformasi kelembagaan, terutama perubahan status KNEKS dari lembaga koordinasi menjadi Badan Ekonomi Syariah dengan kewenangan eksekutif.






