INAnews.co.id, Jakarta– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai program unggulan Presiden Prabowo Subianto kini menuai kritik tajam. Mantan Ketua KPK Abraham Samad dan komedian senior Mi’ing Bagito menyoroti pengelolaan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang didominasi kalangan pejabat dan keluarganya.
Dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak Up yang diunggah Selasa (17/2/2026), keduanya membahas kasus di Sulawesi Selatan, di mana seorang pemuda berusia 20 tahun—anak dari anggota DPRD Sulsel—disebut memiliki 41 dapur SPPG yang dikelola melalui empat yayasan berbeda.
“Satu orang punya 41 SPPG itu juga masalah,” tegas Abraham Samad. Padahal, menurut aturan Badan Gizi Nasional (BGN), setiap yayasan hanya diperbolehkan mengelola maksimal 10 dapur SPPG. Pembentukan empat yayasan oleh satu pihak dinilai sebagai akal-akalan untuk menghindari pembatasan tersebut.
Mi’ing menambahkan, dengan modal investasi per dapur berkisar Rp1 miliar hingga Rp3 miliar, hanya kalangan berduit atau pejabat yang mampu masuk ke bisnis ini. “Bapaknya punya duit bangunkan SPPG, bangunkan dapur, anaknya tinggal nagih, dan APBN-nya sudah ada,” ujarnya.
Kedua tokoh itu menilai kondisi ini bukan cerminan jiwa wirausaha, melainkan pemanfaatan relasi kekuasaan. “Ini bukan entrepreneur. Entrepreneur itu berjuang dari sepeda sampai punya motor, sampai jadi besar. Kalau ini, enggak ada perjuangan,” kata Mi’ing.
Akibat pengelolaan yang bersifat industrial dan terpusat, manfaat ekonomi program ini dinilai tidak menyentuh masyarakat sekitar sekolah. Nelayan, petani, pedagang beras, dan ibu-ibu di sekitar sekolah kehilangan peluang menjadi pemasok karena kebutuhan bahan baku dalam skala besar hanya bisa dipenuhi agen-agen besar.






