INAnews.co.id, Jakarta– Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 tercatat 5,11 persen, meleset dari target pemerintah sebesar 5,2 persen yang tertuang dalam APBN 2025. Angka ini memicu kekhawatiran ekonom bahwa target pertumbuhan 5,4 persen di tahun 2026 akan semakin sulit dicapai.
“Tidak tercapainya target di tahun kemarin ini menjadi alarm bagi pemerintah. Ternyata tidak cukup hanya disontek 200 triliun, tidak cukup hanya dengan berbagai stimulus yang sudah dikeluarkan,” ujar Eko Listiyanto, Direktur Pengembangan Big Data INDEF, dalam diskusi publik bertajuk “Pertumbuhan di Tengah Gejolak Pasar Saham”, Kamis (6/2/2026).
Meskipun pertumbuhan triwulan IV-2025 mencapai 5,39 persen, didorong oleh momentum Natal dan libur akhir tahun, INDEF menilai konsumsi rumah tangga masih tertekan dengan pertumbuhan hanya 4,98 persen. Angka ini jauh di bawah level optimal pra-COVID yang berada di atas 5 persen.
“Konsumsi kita masih sakit, sehingga harus dilakukan upaya-upaya penyehatan,” tegas Eko.
Dari sisi belanja pemerintah, pertumbuhan anjlok tajam menjadi 2,5 persen pada 2025, dari 6,7 persen di tahun sebelumnya, akibat kebijakan efisiensi di awal tahun yang mengganggu penyerapan anggaran.
INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 hanya mencapai 5 persen jika tidak ada langkah ekstra dari pemerintah. Lembaga riset ini merekomendasikan percepatan belanja fiskal di triwulan pertama untuk memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran.






