INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap kualitas politik tanah air. Ia menilai satu-satunya politik yang bermutu saat ini justru datang dari kalangan mahasiswa, sementara para politisi di pemerintahan dan DPR hanya sibuk dengan kepentingan personal dan perkoncoan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam wawancara dengan Hersubeno Arief di kanal YouTube @RockyGerungOfficial_2024, Rabu (25/2/2026).
“Satu-satunya politik yang bermutu hari-hari ini politik yang diselenggarakan oleh kalangan mahasiswa,” tegas Rocky.
Menurut Rocky, politik mahasiswa bermutu karena ada nilai yang diperjuangkan secara konsisten, upaya memperbaiki aktivisme dengan basis ideologi, serta forum untuk mempercakapkan soal-soal republik dengan metodologi ilmiah.
Ia mencontohkan gelaran “Akademi Republikan” di Jogja yang baru saja dilakukannya. Akademi yang mengajarkan hubungan antara ide republik dan tanggung jawab warga negara itu mendapat sambutan luar biasa dengan 6.000 pendaftar, meski ruangan hanya mampu menampung 400 orang.
“Yang paling utama adalah menilai apakah Indonesia masih ada di dalam upaya untuk menghasilkan pikiran-pikiran founding parents kita. Ketika republik dimaksudkan sebagai ruang bersama untuk memelihara keadilan, saling menjaga kemerdekaan,” ujarnya.
Rocky menyayangkan kondisi saat ini di mana ruang republik justru mengecil karena ruang negosiasi bisnis dan kepentingan individual menjadi lebih penting dan mencolok.
Kritik Terhadap Oposisi Gadungan
Lebih lanjut, Rocky juga mengkritik fenomena tidak adanya oposisi di parlemen. Menurutnya, beroposisi tidak sekadar ngecap, ngomel, atau marah-marah di media sosial tanpa gagasan.
“Oposisi itu memerlukan shaping ideas, ide penuntun. Oposisi itu memerlukan value. Oposisi itu memerlukan perlembagaan,” tegasnya.
Ia mengecam para komentator di media sosial yang marah tanpa arah dan tanpa gagasan. “Mereka yang marah ke semua arah itu artinya marah tanpa arah. Jadi bahaya kalau beroposisi itu lewat sosial media,” kata Rocky.
Membedakan Kepentingan Individu dan Kebebasan Individu
Dalam kesempatan itu, Rocky juga mengkritik kebodohan para komentator yang tidak bisa membedakan konsep kepentingan individu dan kebebasan individu.
“Yang kita perjuangkan adalah liberalisme dalam pengertian kebebasan individu, bukan kepentingan individu. Kepentingan individu itu kapitalisme. Kebebasan individu itu sosialistis,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kepentingan individu adalah pokok pikiran Adam Smith, sementara kebebasan individu justru menjadi pokok pikiran Karl Marx. “Itu bodohnya atau dungunya para komentator yang ingin mancing-mancing debat, tapi konsep dasar enggak dipahami,” sindirnya.
Akademi Republikan, kata Rocky, akan berlanjut dengan enam kali sesi dalam setahun, menghadirkan pengajar seperti Robert (profesor filsafat politik) dan Haris Azhar, untuk membahas persoalan republik yang diselewengkan oligarki dengan metodologi akademis, bukan sekadar saling sinis di media sosial.






