INAnews.co.id, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto membantah tiga isu publik terkait alasannya tidak mengganti Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pengungkapan ini disampaikan Said Didu setelah pertemuan tertutup dengan Presiden di Istana.
“Publik bertanya ada tiga hal kenapa Presiden Prabowo tidak mengganti Kapolri: satu titipan Jokowi, dua ada sesuatu yang dia pegang Kapolri, tiga ada balas jasa utang budi. Dia jawab bahwa ketiga-tiganya itu enggak ada,” ungkap Said Didu dalam wawancara dengan Akbar Faizal, Sabtu (14/2/2026).
Prabowo bahkan memberikan sinyal tegas soal hubungannya dengan Presiden sebelumnya. “Keluar bahwa seakan-akan dul….memenangkan dia. Presiden mengatakan konsentrasi memenangkan PSI bukan memenangkan Prabowo,” kata Said Didu.
“Itu menunjukkan, hentikan bahwa dia tidak mengganti karena utang budi,” lanjutnya.
Said Didu juga mengungkap fakta-fakta politik yang menunjukkan Prabowo tidak di bawah pengaruh Jokowi. Salah satunya soal batalnya revisi UU Pilkada yang akan memudahkan Kaesang Pangarep maju sebagai Gubernur Jawa Tengah.
“Sidang pleno untuk menetapkan revisi UU Pilkada dibatalkan. Yang bisa memerintah Dasco (Wakil Ketua DPR) pasti hanya Prabowo,” jelasnya.
Selain itu, Prabowo juga menyatakan menolak perluasan dinasti. “Dia menyatakan, ‘Saya bukan berarti ada beberapa usulan Jokowi yang tidak saya lakukan, termasuk ingin memperluas kekuasaan dinasti’,” kata Said Didu.
Di bidang kebijakan, banyak program Jokowi yang dihentikan Prabowo seperti pengambilalihan sawit dan infrastruktur. “Jadi bukan di bawah bayang-bayang Jokowi,” tegasnya.
Soal wacana dua periode, Prabowo menyatakan belum memikirkannya. “Saya akan bekerja penuh untuk rakyat dan saya tidak berpikir untuk selanjutnya. Kalau saya gagal dan rakyat merasa saya salah, maka saya bersedia mendapat hukuman dari rakyat,” ujar Prabowo.
Said Didu menilai pernyataan itu menunjukkan Prabowo tidak tertarik wacana dua atau tiga periode. “Jadi tidak ada pikiran sama sekali untuk maju,” katanya.






