INAnews.co.id, Jakarta– Di tengah berbagai kritik yang kian tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pengamat Muhammad Said Didu menegaskan bahwa dirinya masih menyimpan harapan kepada Prabowo, meski mengaku frustrasi dengan cara-cara yang ditempuh pemerintah. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara bersama jurnalis senior Edy Mulyadi, Senin (23/3/2026).
“Saya masih percaya niat Prabowo, tapi saya frustrasi dengan caranya,” ujar Said Didu, seraya menambahkan bahwa hipotesis itu ia kemukakan dalam setiap pertemuannya dengan sejumlah tokoh senior, mulai dari Prof. Emil Salim, Dahlan Iskan, Sofjan Wanandi, Peter Gontha, hingga Menko Polkam.
Said Didu juga menceritakan bahwa dalam sebuah forum diskusi kalangan oposisi, sempat muncul wacana untuk menjatuhkan Prabowo sekaligus Gibran. Ia mengaku hadir dalam pertemuan itu dan secara tegas menolak opsi tersebut.
Alasannya, menurut Said Didu, bukan karena membela Prabowo secara membabi buta, melainkan karena ia meyakini jatuhnya Prabowo justru hanya akan membuka jalan bagi kembalinya kelompok yang ia sebut “geng Solo oligarki” untuk mengendalikan negara. “Itu bukan penggantian rezim, tapi mengembalikan mereka yang semakin arogan,” tegasnya.
Said Didu menyimpulkan bahwa memperbaiki orang-orang di sekitar Prabowo jauh lebih realistis dan lebih menguntungkan bangsa ketimbang mengambil risiko mengganti kepemimpinan di tengah jalan.






