INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia mencatat angka kepemilikan ponsel sebesar 125 persen dari total penduduk, melampaui rata-rata dunia yang hanya 70,5 persen. Tingkat koneksi internet pun mencapai 74,6 persen, di atas rata-rata global 67 persen. Namun potensi raksasa ini justru menjadi celah eksploitasi data oleh platform-platform asing.
Hal itu disampaikan pakar telematika Roy Suryo dalam podcast Forum Keadilan TV, yang ditayangkan pada Ahad (22/3/2026). Dari 285 juta penduduk Indonesia, sebanyak 356 juta unit ponsel beredar, sementara rata-rata warga menghabiskan 21 jam sehari dalam kondisi daring.
Dominasi platform asing di Indonesia sangat mencolok. WhatsApp digunakan oleh 90,8 persen pengguna ponsel, disusul Instagram (82 persen), Facebook (81 persen), YouTube (80 persen), dan TikTok serta Telegram yang masing-masing menembus angka di atas 50 persen. Seluruh platform tersebut berbasis di Amerika Serikat dan tunduk pada hukum AS, termasuk US Cloud Act.
Roy menyebut kondisi ini sebagai bentuk “kolonisasi data”, penjajahan era baru yang berlangsung diam-diam dan tanpa perlawanan.






