INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti senior hubungan internasional Ikrar Nusa Bhakti menilai serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak semata-mata bertujuan menghancurkan rezim Teheran atau melumpuhkan program nuklirnya. Dalam analisis yang ia sampaikan melalui kanal YouTube-nya pada Jumat (20/3/2026), Ikrar menegaskan bahwa ada agenda geopolitik yang jauh lebih besar di balik konflik tersebut: melemahkan pengaruh Tiongkok di kawasan jantung Eurasia.
Laut Kaspia sebagai Papan Catur Geopolitik
Mengutip kajian dari rekannya, Hendrajit dari Global Future Institute, Ikrar menyebut bahwa kawasan Laut Kaspia menyimpan kandungan minyak senilai sekitar 32 miliar barel, potensi yang menjadikannya “Timur Tengah baru” dalam kalkulasi geopolitik global. Kawasan ini, menurutnya, menjadi papan catur tak kasat mata yang melibatkan tiga kekuatan besar: Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok.
“Inilah yang luput dari sorotan media di tengah saling berbalas rudal antara AS dan Iran,” ujar Ikrar.
Provinsi Xinjiang, Tiongkok, berbatasan langsung dengan sisi timur laut Kaspia dan sejumlah negara Asia Tengah yang merupakan negara pesisir di lintasan laut tersebut. Jika kawasan itu bergejolak, konektivitas strategis Tiongkok ke jantung Eurasia berpotensi terganggu.
Risiko Bumerang bagi Washington
Namun Ikrar mengingatkan bahwa strategi AS menggunakan Iran sebagai “kuda troya” untuk mendestabilisasi pengaruh Tiongkok di kawasan itu bisa berbalik menjadi bumerang. Ketidakstabilan di Asia Tengah dan Timur Tengah, termasuk di negara-negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, hingga negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Oman, dan Yordania), justru dapat memicu perang saudara yang merugikan semua pihak.
“Jika Iran mampu bertahan bahkan dua minggu saja, strategi militer Amerika Serikat dan Israel bisa dinilai gagal total,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika operasi militer terhenti di tengah jalan, pilihan maju maupun mundur sama-sama sulit. Skenario paling rasional yang tersisa, menurut Ikrar, tetaplah jalur diplomasi.
Perjanjian Dagang RI-AS Pun tak Lepas dari Bayang-Bayang Cina
Dalam kesempatan yang sama, Ikrar menyinggung pula implikasi perjanjian dagang resiprokal Indonesia–Amerika Serikat. Menurutnya, kesepakatan semacam itu kerap menyisipkan klausul politik-ekonomi yang melampaui urusan perdagangan murni, termasuk soal pilihan mitra teknologi dan infrastruktur digital.
Ia mencontohkan, jika Indonesia hendak membangun jaringan internet nasional dengan melibatkan perusahaan teknologi Tiongkok, AS berpotensi menggunakan hak veto atas kerja sama tersebut.
Isu Kematian Netanyahu Mencuat
Di bagian akhir, Ikrar juga menyinggung spekulasi yang beredar di sejumlah kalangan analis bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesungguhnya telah gugur dalam konflik ini, dan penampilannya di publik tidak lebih dari rekayasa kecerdasan buatan. Meski mengakui klaim tersebut belum terverifikasi, ia menyebut argumen itu tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat kemajuan teknologi AI saat ini.
“Kita belum tahu. Tapi ke mana akhir perang ini, kita tunggu bersama,” pungkas Ikrar.






