Menu

Mode Gelap
SBY: Kebijakan Energi Prabowo tak Boleh Terlambat Menghadapi Gejolak Harga Membongkar Pola Lama di Balik Perburuan Aktivis Prabowo Pertaruhkan Jabatan Presiden 2029 demi MBG Frustrasi Cara Prabowo Memimpin Sembilan Pesan Rahasia JK untuk Prabowo Istana [Sempat] Curigai Manuver JK

GLOBAL

Serangan AS-Israel ke Iran Bermotif Lemahkan Cina di Jantung Eurasia

badge-check


					Foto: Ikrar Nusa Bhakti/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ikrar Nusa Bhakti/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti senior hubungan internasional Ikrar Nusa Bhakti menilai serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak semata-mata bertujuan menghancurkan rezim Teheran atau melumpuhkan program nuklirnya. Dalam analisis yang ia sampaikan melalui kanal YouTube-nya pada Jumat (20/3/2026), Ikrar menegaskan bahwa ada agenda geopolitik yang jauh lebih besar di balik konflik tersebut: melemahkan pengaruh Tiongkok di kawasan jantung Eurasia.

Laut Kaspia sebagai Papan Catur Geopolitik

Mengutip kajian dari rekannya, Hendrajit dari Global Future Institute, Ikrar menyebut bahwa kawasan Laut Kaspia menyimpan kandungan minyak senilai sekitar 32 miliar barel, potensi yang menjadikannya “Timur Tengah baru” dalam kalkulasi geopolitik global. Kawasan ini, menurutnya, menjadi papan catur tak kasat mata yang melibatkan tiga kekuatan besar: Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok.

“Inilah yang luput dari sorotan media di tengah saling berbalas rudal antara AS dan Iran,” ujar Ikrar.

Provinsi Xinjiang, Tiongkok, berbatasan langsung dengan sisi timur laut Kaspia dan sejumlah negara Asia Tengah yang merupakan negara pesisir di lintasan laut tersebut. Jika kawasan itu bergejolak, konektivitas strategis Tiongkok ke jantung Eurasia berpotensi terganggu.

Risiko Bumerang bagi Washington

Namun Ikrar mengingatkan bahwa strategi AS menggunakan Iran sebagai “kuda troya” untuk mendestabilisasi pengaruh Tiongkok di kawasan itu bisa berbalik menjadi bumerang. Ketidakstabilan di Asia Tengah dan Timur Tengah, termasuk di negara-negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, hingga negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Oman, dan Yordania), justru dapat memicu perang saudara yang merugikan semua pihak.

“Jika Iran mampu bertahan bahkan dua minggu saja, strategi militer Amerika Serikat dan Israel bisa dinilai gagal total,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika operasi militer terhenti di tengah jalan, pilihan maju maupun mundur sama-sama sulit. Skenario paling rasional yang tersisa, menurut Ikrar, tetaplah jalur diplomasi.

Perjanjian Dagang RI-AS Pun tak Lepas dari Bayang-Bayang Cina

Dalam kesempatan yang sama, Ikrar menyinggung pula implikasi perjanjian dagang resiprokal Indonesia–Amerika Serikat. Menurutnya, kesepakatan semacam itu kerap menyisipkan klausul politik-ekonomi yang melampaui urusan perdagangan murni, termasuk soal pilihan mitra teknologi dan infrastruktur digital.

Ia mencontohkan, jika Indonesia hendak membangun jaringan internet nasional dengan melibatkan perusahaan teknologi Tiongkok, AS berpotensi menggunakan hak veto atas kerja sama tersebut.

Isu Kematian Netanyahu Mencuat

Di bagian akhir, Ikrar juga menyinggung spekulasi yang beredar di sejumlah kalangan analis bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesungguhnya telah gugur dalam konflik ini, dan penampilannya di publik tidak lebih dari rekayasa kecerdasan buatan. Meski mengakui klaim tersebut belum terverifikasi, ia menyebut argumen itu tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat kemajuan teknologi AI saat ini.

“Kita belum tahu. Tapi ke mana akhir perang ini, kita tunggu bersama,” pungkas Ikrar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

SBY: Kebijakan Energi Prabowo tak Boleh Terlambat Menghadapi Gejolak Harga

26 Maret 2026 - 05:59 WIB

Membongkar Pola Lama di Balik Perburuan Aktivis

25 Maret 2026 - 18:59 WIB

Prabowo Pertaruhkan Jabatan Presiden 2029 demi MBG

25 Maret 2026 - 15:57 WIB

Populer NASIONAL