INAnews.co.id, Jakarta– Partai-partai politik di Indonesia kini sengaja membungkus diri dengan label relawan demi mendongkrak penerimaan publik. Pengamat politik Ray Rangkuti menilai strategi ini lahir dari kesadaran bahwa kata “partai” sudah terlanjur ditolak oleh masyarakat luas.
“Kata partai dihindari orang. Apresiasi terhadap partai rendah sekali. Maka jangan perlihatkan wajah partainya, perlihatkan wajah relawannya,” ungkap Ray dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Ahad (5/4/2026).
Ray menyebut tingkat keterikatan antara partai dan pemilih tidak lebih dari 10 persen, sementara lebih dari 80 persen masyarakat merasa tidak terhubung dengan partai mana pun. Kondisi ini dibaca cerdik oleh partai: daripada tampil dengan wajah aslinya yang tidak laku, lebih menguntungkan jika tampil dengan wajah publik melalui ormas-ormas relawan.
Ironisnya, relawan-relawan yang dibentuk itu digerakkan dan didanai oleh orang-orang partai itu sendiri. Ray menyebutnya sebagai underbow terselubung, secara formal tidak ada hubungan, namun secara substansi keduanya menyatu.
Akibatnya, menurut Ray, kata “relawan” kini mengalami pengkeroposan makna. Masyarakat mulai memandang relawan dan partai sebagai dua hal yang pada dasarnya sama, dengan satu-satunya perbedaan: relawan tidak bisa mendaftarkan calonnya secara administratif ke KPU.






