INAnews.co.id, Jakarta– Dampak krisis Selat Hormuz tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi seluruh komoditas yang mengandalkan jalur pelayaran internasional, termasuk produk ekspor Indonesia seperti furnitur dan tekstil. Siswanto Rusdi mengingatkan bahwa biaya logistik yang membengkak akan berujung pada kenaikan harga jual berbagai produk.
“Apa pun komoditas kita terpengaruh, mau mebel, pakaian, apa saja. Biaya logistiknya naik, baik ekspor maupun impor,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, meski rute kapal tidak berubah, berbagai surcharge seperti biaya keamanan dan biaya energi telah diterapkan oleh pemilik kapal, sehingga ongkos angkut melonjak signifikan.
Siswanto juga menyoroti dampak pengalihan rute impor minyak dari Angola yang membutuhkan tambahan waktu tempuh sekitar 10 hari dibanding jalur Teluk Persia. Di sisi lain, banyak kapal mulai menolak mengangkut muatan ke kawasan tersebut karena risiko bisnis yang terlalu tinggi, sehingga pasokan energi nasional semakin terancam.






