Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

EKONOMI

Covid-19, Bukan Halangan Bagi Kemendag dan Pengusaha untuk Tingkatkan Ekspor TPT

badge-check


					Covid-19, Bukan Halangan Bagi Kemendag dan Pengusaha untuk Tingkatkan Ekspor TPT Perbesar

INAnews.co. Jakarta-Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Kasan, mengajak seluruh elemen yang berkepentingan dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berkontribusi aktif memajukan ekspor TPT Indonesia. Produk TPT masih menjadisalah satu komoditas unggulan Indonesia yang industrinya turut terganggu sejak terjadi pandemi COVID-19.

Untuk itu, diperlukan strategi ekspor tepat untuk meningkatkan ekspor TPT, baik dari sisi peningkatan daya saing, relaksasi regulasi, asistensi teknik, dan penguatan promosi. 

Hal tersebut disampaikan Kasan saat menjadi pembicara kunci pada web seminar (webinar) bertajuk “Diversifikasi dan Adaptasi Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia pada Tataran Kehidupan
Normal Baru” pada Selasa (23/6/20).

Hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut yaitu Direktur
Pengembangan Produk Ekspor (PPE) Kemendag, Olvy Andrianita; Atase Perdagangan RI di Amerika
Serikat (AS), Wijayanto; Vice President Director PT Pan Brothers Tbk., Anne Patricia Sutanto, dan
importir TPT di Amerika Serikat, Metrini Geopani Simatupang dan Emelie Conroy.

Webinar ini dihadiri oleh lebih dari 230 peserta yang berasal dari pelaku bisnis, asosiasi, perguruan tinggi, media, dan perwakilan  Kementerian /Lembaga terkait, serta Pemerintah Daerah.

“Industri TPT merupakan industri manufaktur nasional yang strategis. TPT memberikan sumbangan devisa ekspor dan merupakan industri padat karya yang menjadi salah satu ‘jaringan pengaman sosial’ dari sisi pendapatan penduduk.

Untuk itu, pasar eskpor komoditas TPT harus dipertahankan, terutama setelah terkena imbas merebaknya COVID-19,” ujar Kasan.

Kasan menjelaskan, sejak merebaknya COVID-19, perdagangan tesktil terkena imbas mengingat bahan
baku penolong dan aksesori sebagian besar diimpor dari Tiongkok.

Kondisi pandemi, penerapan
karantina wilayah (lockdown) di beberapa negara dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia, turut mengganggu pasokan dan permintaan industri tekstil

Indonesia di pasar lokal dan
pasar ekspor. Di pasar domestik terjadi kelambatan pembelian dan omzet pedagang. Sementara itu, kinerja ekspor TPT juga tercatat mengalami penurunan.

Sementara itu, Olvy memaparkan berbagai hambatan industri TPT Indonesia yang teridentifikasi, yaitu hampir 70 persen bahan baku masih impor, daya saing harga rendah, daerah produksi yang masih terpusat di pulau Jawa, belum optimalnya diversifikasi produk, mesin produksi yang sudah tua, serta
kurangnya branding bagi produk TPT Indonesia.

Hambatan lain yang dialami komoditas TPT dunia dan Indonesia di tengah pandemi COVID-19, lanjut Olvy, antara lain penurunan tingkat permintaan pada industri TPT, penurunan omzet industri TPT dunia yang mengindikasikan penurunan daya beli konsumen, pembatalan sejumlah acara besar dunia
yang menjadi sarana promosi, penutupan sementara destinasi wisata dan toko ritel tekstil, karantina wilayah (lockdown), serta pelemahan ekonomi global dan di sisi lain peningkatan hambatan proteksi dari negara mitra dagang.

“Di tengah berbagai hambatan, produk TPT Indonesia juga memiliki kekuatan dan peluang. Kualitas dan eksklusivitas produk TPT asal Indonesia telah diakui banyak negara. Sedangkan, peluang ekspor yang terbuka lebar saat ini ialah alat pelindung diri (APD) dan alat kesehatan yang terbuat dari tekstil.

Selain itu tekstil Indonesia juga memiliki keunggulan secara ekslusivitas seperti batik dan tenun yang terbuat dari serat alam (jerami dan alang-alang), sutra kepompong ulat daun kedondong dan pewarna
alam (indigo).

Secara kualitas, juga telah diakui dunia, terutama pakaian militer, tekstil untuk bahan industri  seperti jok pesawat dan kereta api, furnitur, bioskop, dan tenda, serta tekstil dengan kualitas
premium untuk pakaian dalam wanita,” ungkap Olvy.

Menurut Olvy, saat ini juga terjadi peningkatan permintaan serat organik dan pakaian muslim yang
harus dilihat sebagi peluang. Selain itu, kebijakan pemerintah melalui program “Making Indonesia 4.0” juga harus dimanfaatkan.

Program ini termasuk memberikan dukungan pada peningkatan inovasi riset dan pengembangan (R & D), penguasaan mesin/peralatan modern, peningkatan desain dan mutu
produk, peningkatan keahlian tenaga kerja (vokasi), serta pemenuhan sertifikasi dan standar produk TPT Indonesia.

Namun demikian, pengetatan operasional kegiatan tetap harus diterapkan, khususnya
pada sektor produksi, yang mengedepankan protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

Melalui webinar tersebut, Olvy memaparkan pula strategi diversifikasi dan adaptasi produk ekspor TPT.

Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan dengan spesifikasi tertentu, termasuk diversifikasi produk TPT untuk kesehatan seperti masker dan APD; mendorong percepatan
penggunaan serat alam sebagai bahan baku industri; serta meningkatkan produk fesyen khususnya fesyen muslim.

Kedua, melakukan penetrasi pasar melalui penyelesaian perundingan internasional, penyelesaian
hambatan perdagangan, serta penguatan promosi dagang (daring/luring) dan branding.

Ketiga, memperkuat peran perwakilan perdagangan.

Keempat, meningkatkan daya saing produk dan sumber daya manusian usia kecil menengah (UKM) ekspor melalui pendampingan dan konsultasi desain.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan wadah seperti Indonesia Design Development Center (IDDC), Designers Dispatch
Service (DDS), Good Design Indonesia (GDI), sertifikasi, dan branding. Kelima, melakukan relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor salah satunya dengan penerbitan Permendag No. 57 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Bahan Baku Masker, Masker, dan Alat Pelindung Diri; dan keenam,
meningkatkan fasilitasi perdagangan.

Melalui kesempatan webinar tersebut, Atase Perdagangan RI di AS Wijayanto menyatakan siap
menjembatani dan membantu memfasilitasi UKM yang ingin berdagang di AS.

Atase Perdagangan akan bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Chicago dan Los Angeles menjadi sumber informasi pasar ekspor, mencari buyers, memperbarui informasi terkait regulasi impor, mempromosikan, dan membantu mencari pasokan bahan baku.

Para perwakilan perdagangan
tersebut juga akan menggandeng diaspora Indonesia di AS dalam meningkatkan upaya meningkatkan ekspor produk TPT ke AS.

Sementara itu, Vice President Director PT Pan Brothers Tbk., Anne Patricia Sutanto, menegaskan pentingnya diversifikasi produk ekspor TPT yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Tantangan TPT selama pandemi COVID-19, adalah mayoritas brand menutup toko sehingga
menyebabkan penundaan produksi. Kondisi tesebut disiasati dengan mendiversifikasi produk menjadi APD seperti hazmat protection, gown, shoe cover, dan masker dimana saat ini permintaan produk tersebut  sangatlah besar, baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Selain itu, Anne juga menyampaikanhal utama yang perlu diperhatikan bagi pengusaha tekstil, yaitu menjaga hubungan komunikasi dengan
buyer, menjalin kerja sama dengan perusahaan besar, ketepatan waktu pengiriman barang, serta memanfaatkan  promosi secara daring karena kondisi Covid-19 yang diperkirakan berlangsung lama.

Pada kesempatan sharing session, Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
(APPMI), Poppy Dharsono menyampaikan bahwa pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) sebagai ajang promosi fesyen Indonesia yang semula direncanakan pada April 2020, diundur menjadi Oktober
2020.

Selain itu, APPMI juga berkomitmen menjalin kerja sama dengan Kemendag untuk promosi
fesyen, termasuk masker yang terbuat dari tekstil.

Sementara itu, importir TPT di Amerika Serikat, Metrini Geopani Simatupang dan Emelie Conroy
menyampaikan bahwa TPT Indonesia memiliki potensi yang cukup baik di pasar Amerika, salah satunya tekstil yang ekslusif dengan segmentasi tertentu, dimana walaupun pasar masih kecil, namun permintaannya  berkesinambungan.

Peserta sangat mengapresiasi pelaksanaan webinar ini karena informasi yang diberikan cukup actual dan memberikan motivasi serta inspirasi bagi pelaku bisnis untuk dapat mengembangkan produknya sesuai dengan permintaan pasar.

Selanjutnya, akan dilaksanakan webinar yang lebih spesifik
produknya sehingga dapat secara detail membahas strategi pengembangan pasar dan produk ekspor.

“Webinar ini adalah langkah awal kita untuk bisa lebih fokus ke depannya dalam menggali isu-isu
spesifik per komoditas. Saya mengharapkan baik asosiasi, pelaku bisnis, maupun perwakilan
kementerian/lembaga dapat memberikan masukan konkret sehingga Kemendag dapat menyusun strategi yang tepat untuk meningkatkan eskpor TPT Indonesia,” pungkas Kasan.

Sekilas Mengenai Industri TPT Indonesia
Selama lima tahun terakhir, kinerja ekspor produk TPT fluktuatif. Namun demikian, pertumbuhan ekspor produk TPT selama periode 2015–2019 mengalami tren positif 1,99 persen.

Kinerja ekspor produk TPT mengalami penurunan sejak 2019 dengan persentase penurunan sebesar 2,79 persen
dibandingkan 2018.

Nilai ekspor produk TPT Indonesia pada Januari–April 2020 mencapai USD 3,64 miliar atau menurun 16,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD
4,36 miliar.

Pada 2019, nilai ekspor terbesar produk TPT Indonesia ialah jersey, pullover, cardigan sebesar USD
535,81 juta (pangsa 4,19 persen); serat staple sintetik USD 525,68 juta (pangsa 4,11 persen), blus
kemeja USD 451,90 juta (pangsa 3,54 persen); benang USD 393,05 juta (pangsa 3,07 persen); dan bra
USD 381,99 juta (pangsa 2,99 persen).

Negara tujuan ekspor terbesar Indonesia pada 2019 adalah Amerika Serikat dengan pangsa pasar 36,21 persen, Jepang (10,34 persen), Tiongkok (6,03 persen), Korea Selatan (4,79 persen), dan Jerman (4,10 persen).

Kelima pasar ini merupakan pasar utama produk TPT dengan jumlah pangsa pasar keseluruhan sebesar 61,47 persen. Sementara itu sepanjang 2015—2019, ekspor TPT Indonesia ke pasar-pasar nontradisional menunjukkan tren positif, antara lain India (tren 16,81 persen), Filipina (8,55 persen), Arab Saudi (7,58 persen), Bangladesh (5,82 persen), dan Belanda (5,73 persen).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kontrak Sewa Kapal PLN Energi Primer Capai Rp16 Triliun, CBA : Nilainya Triliunan Tapi Dianggap Seperti Kuitansi Kosong

7 Januari 2026 - 07:22 WIB

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

CBA Desak Kejagung Panggil Djony Bunarto Tjondro Terkait Dugaan Korupsi Impor BBM Pertamina

5 Januari 2026 - 06:31 WIB

Populer EKONOMI