INAnews.co.id, Jakarta – Busi adalah elemen penting dalam kendaraan. Fitur ini berfungsi sebagai pengapian dan pendongkrak performa mesin dan untuk meningkatkan performa mesin.

Busi menjalankan tugas utama memberikan percikan api di dalam ruang bakar yang telah terkompresi campuran bensin dan udara.
Untuk diketahui, ruang bakar pada mesin kendaraan memiliki kondisi yang sangat ekstrem. Ini karena siklus perubahan temperatur panas dan dingin yang terus berulang dan terjadi dengan sangat cepat.
Selain itu pada ruang mesin juga terdapat arus listrik dengan voltase tinggi. Proses ledakan saat berlangsungnya pembakaran bahan bakar terjadi terus-menerus dan dapat memicu korosi pada material elektroda busi.
Kondisi demikian membuat pabrikan busi dunia melakukan riset untuk menemukan material elektroda busi yang memiliki performa lebih tinggi, lebih tahan panas dan masa pakai atau lifetime yang lebih lama.
NGK merek busi telah memproduksi G-Power, busi ini satu-satunya yang menggunakan material logam mulia platinum pada bagian pusat elektroda (central electrode).
Busi G-Power ini memiliki diameter diameter yang sangat tipis, hanya 0,6 milimeter. NGK merancangnya demikian agar pengapian menjadi terfokus atau terpusat, terhindar dari risiko aus pada kedua elektrodanya.
Keausan pada elekroda bisa menimbulkan penumpukan karbon lebih cepat. Lama-kelamaan membuat usia pemakaian busi menjadi lebih pendek.
Dengan diameter yang sangat tipis, campuran bahan bakar dengan udara menjadi lebih banyak. Percikan dari hasil ledakan untuk menghasilkan energi gerak kendaraan juga lebih besar. “Dengan diameter elektroda pusat yang tipis kebutuhan arus listrik untuk memercikkan listrik di antara celah elektroda pusat dan ground busi juga lebih rendah. Daya pengapian busi akan meningkat.

Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia menjelaskan, jika dibandingkan dengan busi berbahan nickel alloy, material platinum masa pakainya lebih lama yang pasti menghemat bahan bakar penggunaan pada centre electrode memiliki beberapa keuntungan.
Dalam sebuah virtual konferensi pers, Rabu (24/02/2021).Diko menjelaskan bahwa Pembuatan busi sekarang bergeser menggunakan logam mulia, platinum termasuk dalam itu. Sifat dasarnya memiliki titik lebur, kekerasan, konduktivitas, pengantar panas, dan listrik yang tinggi.
Selanjutnya Diko Oktaviano menambahkan, jika dibandingkan dengan busi berbahan nickel alloy, material platinum masa pakainya lebih lama yang pasti menghemat bahan bakar penggunaan pada centre electrode memiliki beberapa keuntungan. Sedangkan busi yang bahan menggunakan platinum yang memiliki tingkat leleh yang tinggi dan konduktivitas listrik yang baik, sebagai bahan dasar central electrode.
Busi ini juga mampu mengurangi efek quenching atau hambatan pertumbuhan inti api yang biasanya terjadi pada busi kendaraan bermotor, menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah sehingga lebih ramah lingkungan dan sistem pembersihan busi secara otomatis sehingga tidak akan terjadi carbon fouling
Sementara untuk busi berbahan nikel alloy sebenarnya bukan tidak bagus, tapi menurut Diko jika dikomparasi berdasarkan performa dan durasi pakai ada perbedaan signifikan.
“Dibandingkan dengan busi nikel alloy, busi platinum itu memang long life time atau durabilitasnya bisa diandalkan. Sementara untuk efisiensi bahan bakar platinum juga sangat membantu sekali, karena memiliki center electrode 0,6 mm sehingga percikan listrik konsisten, fokus, dan stabil,”Tutup Diko.






